25.6.18

I am the (ex) Banker

Alkisah di satu senja, di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik...

Saya, Ruwi, dan satu orang teman kami lainnya janjian untuk menonton sebuah film di bioskop yang terletak di sebuah mal di sudut desa bernama Pejaten. Saya sudah lupa judul filmnya, tak penting lah, yang jelas bukan Dimsum Martabak yha. Karena itu enaknya dimakan bukan ditonton.

Sebagai Aparatur Sipil Negara yang jam pulangnya terdepan ini membuat saya menginjakkan kaki di mal lebih awal. Sementara itu Ruwi dan rekan kami lainnya, yang untuk selanjutnya akan kita singkat dengan nama FERRY ini, masih berkutat dengan kesibukan pekerjaan di kantornya. Sembari menunggu kedatangan mereka berdua, saya mengunjungi salah satu tempat yang akan dituju oleh pria kebanyakan ketika menunggu orang atau pasangannya di mal : Cuci Mata di Ace Hardware, Cuci Otak di Gramedia, atau Cuci Kaki di Bersih Sehat. 

Berhubung otak udah rada sengkleh, cus lah saya ke Gramedia.

Beberapa lama setelah saya ngeliatin novelnya George R.R. Martin, Ayu Utami, Eka Kurniawan, sampe ke seri Harlequin dan Sahabat Rasul (kontras banget ya), tiba-tiba mata saya bertumbukan dengan sampul novel ini. 

diambil dari Goodreads.com

Hihi. Judulnya menggelitik saya. Mungkin karena saya juga bekas banker. Walaupun sebagai orang IT, tapi kalo yang udah kerja di Bank semuanya sah aja kan kalo disebut banker??

"Saaaah...," hati kecil menjawab

Saya pun membalik cover untuk melihat ringkasan ceritanya.

Bimo tersenyum kecut dalam hati. Bertahun-tahun dia bekerja baik di bank yang sekarang maupun yang sebelumnya, Bimo ga pernah tuh ngerasain yang namanya work-life balance. Bagi Bimo, work-life balance itu cuma mitos yang dikeluarin sama perusahaan untuk memberikan ilusi ke karyawannya kalo perusahaan peduli sama kehidupan mereka.

"What??!! Stalker!! Siapa nih orang?" jerit saya sambil membalik-balik novelnya. Bukan saja Damar menggunakan nama saya, tapi ringkasannya persis banget ke kehidupan nyata saya. Saya adalah banker yang memutuskan hijrah berbakti pada negeri karena di kantor yang lama udah ngerasa ga "hidup" lagi.

Hih!

Dan untuk pertama kalinya, saya beli novel bukan karena review orang atau saya tau ceritanya bagus. TAPI KARENA NAMA SAYA DAN CERITA SAYA ADA DI RINGKASANNYA BHAHAK.

--- Di bawah ini udah rada-rada spoiler ya ---

Beberapa nama tokoh yang ada di sini beneran ada di kehidupan nyata saya.
  1. Partner kerja Bimo yang namanya Aldo, beneran sahabat dan partner kerja saya pertama kali saya masuk Bank Riba Itu (jangan disingkat plis). 
  2. Partner kerja Bimo lainnya namanya Arlan, sedangkan salah satu sohib saya namanya.... Alan. 
  3. Hardi, si bos Bimo, dikehidupan nyata itu adalah teman seangkatan ketika masuk ke Bank ...... itu. 
  4. Udin, Rini, Santi, juga adalah nama-nama user saya  di situ. 
  5. Bimo punya istri dan dan anak, sementara nyatanya...... sudahlah. 

Tokoh Bimo ini seakan-akan menertawakan beberapa kisah satir kehidupan yang kadang juga suka saya tertawakan. Contohnya kenyataan bahwa karyawan yang paling banyak protes soal kenaikan gaji biasanya karyawan yang paling lama menetap. HA!! 

Tulisan Damar mengingatkan saya pada novel-novel Hilman Hariwijaya. Bahasanya lugas dan enak dibaca. Meskipun format penulisannya berbeda dengan format novel kebanyakan, tapi bagi saya bukan masalah berarti. Membaca novel bagian pertamanya hanya membutuhkan waktu 1 jam, dan diselingi oleh cekikikan yang mengocok perut.

Kesimpulannya, novel ini recommended buat dibaca!! Apalagi ada saya di dalamnya!! 

No comments: