24.9.17

Istri : Keinginan atau Kebutuhan?

Diskusi sialan ini siapa yang nyana bermula dari Galaxy Notes 8?  Gegap gempitanya promo gawai anyar besutan Samsung itu sungguh bikin saya mengelus dada. Sesekali keimanan saya nyaris runtuh. Apalagi kantor tempat saya bekerja membuat promo cicilan 0%, plus bonus cash back dan speaker. Lihat ponsel sahabat saya yang Galaxy S8 mulus aja sudah membuat saya menelan ludah, sembari mengelus-elus mesra A7 milik saya dan berkata, "Enggak ah, Insya Allah bisa istiqomah. Allahu Akbar!!"

"Gak ah," tolak saya. "Itu cuman keinginan aja, Pakde, belum jadi kebutuhan," ucap saya ke Ruwi1 saat dia bertanya kenapa ga beli saja. Dia melihat saya mampu secara finansial. Tapi bagi saya, buat apa saya beli, toh ponsel saya yang lama masih mumpuni untuk membantu mengatasi pekerjaan sehari-hari. Baterainya pun masih setrong.

"Terus kalau istri gimana?"

Bangkai juga bocah tua nakal ini. Ruwi hobi sekali menggiring pembicaraan sampai saya tersudut. Segala macam topik dia arahkan supaya kita bisa berbincang tentang "istri" dan "pernikahan".

"Iya itu juga," jawab saya. "Masih keinginan, belum kebutuhan.."

"Lho.. lho.. lho..??!! " Ruwi tidak terima. Wanita-wanita lain yang ia ceritakan soal diskusi kami, juga ikut-ikutan tidak terima. Hih. 

"Sesuatu disebut keinginan itu jika kita masih bisa menemukan substitusi," jelas saya pada ibu-ibu yang setengah murka. "Untuk istri, kita lihat konteksnya. Misalkan, kalau sakit,.."

Belum selesai penjelasannya, Ruwi sudah memotong. "Kita ga diskusi soal tugas dan kewajiban istri. Tapi satu kesatuan, ISTRI. Masa istrimu disamakan kayak pembantu?" sergahnya. Kalau tidak karena sudah saya anggap seperti adik sendiri, sudah saya racun dan paketkan dia ke Padang untuk dijadikan bahan kripik pedas oleh ibu Christine Hakim. Habis, ngomongnya pedas banget.

Padahal saya tidak membahas dari sudut pandang general, melainkan dari kacamata saya sendiri. Ini yang mungkin menjadi alasan kenapa sampai sekarang saya ga getol-getol banget cari istri. Sesuatu yang sebenarnya baru saya sadari setelah diskusi ini terjadi. Saya punya mbak Iyah yang bisa memenuhi kebutuhan perut saya, bisa merawat saya jika saya sakit. Ada woro yang masih bisa diajak kemana-mana bareng, dengan selera yang nyaris beririsan.  Ada banyak sepupu-sepupu yang masih perhatian.
 
Bahkan ketika Ruwi menikah, sehingga kelompok pertemanan kami hanya menyisakan saya yang masih jomlo, saya sempat berpikir saya harus mencari istri segera. Eh, ternyata Allah mencarikan saya kelompok pertemanan lainnya, sehingga pikiran tadi jadi terlupa.


"Terus kalau yang "itu" gimana?" tanya salah seorang ibu sambil memandang saya tajam. Dasar, ternyata ibu ini mesum juga. "Yaaaa, bisa lah cari substitusinyaaaa," jawab saya dengan memasang tampang nakal. HAHAHAHA.


Kesimpulannya, bukannya tidak berminat untuk berumah tangga. Tapi memilih jodoh mungkin berbeda-beda flowchartnya untuk setiap insan manusia. Karena kebutuhannya belum mendesak, proses quality assurancenya jadi dipandang terlalu rumit untuk beberapa orang. Ada satu yang harus diingat. Walaupun di era milenial dengan piranti digital yang semuanya serba real time dan cepat, kebanyakan manusia masih makan dengan tangan kanan sembari memegang gawai di tangan kiri. Sementara jodoh, masih di tangan Tuhan.   

1. Cerita tentang Ruwi lainnya bisa dilihat di sini
2. Gambar dari malesbanget.com

3 comments:

Cynthia said...

Gatel pengen komen *sesama jomblok*

Dari flowchart anda kok saya jawabannya "peka dong!" ������

Saya setuju, pasangan hidup itu buat saya pun masih jadi keinginan, bukan kebutuhan. Terkadang malah kadang2 gak ingin, apalagi kalo lagi baca berita ayopoligami.com ��������

MoMo said...

ayopoligami.com itu so yesterday ceu. yang baru nikahsiri.com

kikokuki said...

Subtitusi sih boleh aja... Sekarang kebetulan aja masih bisa...
Masalahnya satu, lu mikir susahnya doang kaliiiii, coba dipikir enak dan manfaatnya untuk investasi di kemudian hari, contohnya punya anak yang saleh/salehah, pasangan dalam susah dan senang, dan menambah pahala karena bekerja untuk mencari nafkah keluarga. Surga bok! Surga.....

Oke deh, selamat berfikir yaaaa....

Ps. Dapet salam kangen dari Ruwi, nih..