22.6.17

1 x 7 ( bagian 1 )

Salam, pembaca! Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa yang sangat telat ini, karena puasa tinggal beberapa hari ke depan. Tapi, seperti halnya blog yang baru diisi kembali setelah sekian lama ini, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ya khan?!

Tulisan kali ini terinspirasi oleh tulisannya Maknyak Putri yang mengharu biru, sehingga saya akhirnya tau jika beberapa waktu lalu adalah hari ayah untuk kawasan US (mereka merayakannya setiap minggu ketiga di bulan Juni - susah sekali ya mengingatnya).

Berbicara tentang sosok ayah, atau yang lebih saya sering sebut dengan Bapak, saya tidak bisa lupa dengan pelajaran ini.

1 x 7  

Hmm, saya sampai sekarang masih ingat sekali adegan ini.

Kejadiannya saat saya bahkan masih SD. Kelas dua tepatnya. Saya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata (kibas poni) merasa bosan dengan soal-soal matematika yang hanya penambahan dan pengurangan. Oleh karena itu, kemudian saya minta kepada Bapak untuk mengajarkan yang lebih. More, more, more. Bapak pun mencoba mengajari saya perkalian, yang harusnya dipelajari saat kelas tiga nanti. Saya pun merasa keren sekali. Lihat satu X aja keren yha. Sekarang satu rasanya kurang,  maunya tiga X. Lho, malah ngelantur.

Soal nomor satu, adalah soal di atas.
"Tujuh?" jawab saya meragu.
Bapak tersenyum. "Kenapa Tujuh?" tanyanya
"Satu kali tujuh. Ada angka Satu sebanyak Tujuh kali, Satu tambah Satu tambah Satu tambah Satu tambah Satu tambah Satu tambah Satu,"

Bapak terdiam. "Benar, jawabannya Tujuh," kemudian suaranya. "Tapi bukan begitu penjelasannya. Ini Satu kali Tujuh. Sekali Tujuh," ucapnya lagi. "Jadi Tujuhnya sekali aja,"

"Kok gitu?" dahi saya berkerenyit. Bagi saya, angka di belakang itu menunjukkan berapa banyak dia berulang. Saya membutuhkan penjelasan yang lebih masuk akal. Jawaban Bapak tidak dapat masuk ke penalaran otak saya yang sok pintar itu. Saya pun tak tahu, permasalahan ini akan populer berpuluh tahun kemudian. Seandainya zaman itu sudah ada media sosial, mungkin kami akan langsung mention pak Yohanes Surya atau akan DM Ibu Belawati H Widjaja. Saat itu saya hanya bergantung pada penalaran seorang lulusan S2 teknik sipil India, yang dengan bodohnya saya sangsikan. Yang paling saya sesali, adalah rentetan percakapan demi percakapan setelahnya.

"Ya emang gitu. Dari sananya," ucapan Bapak inilah yang membuat saya akhirnya berkata,
"Kalau jawabannya gitu. Ya aku juga bisa bilang, "emang dari sananya"- lah," balasku ketus.

Bapak naik pitam. Diambilnya sabuk dari celana panjang yang ia gantungkan di balik pintu gudang. Dilecutkannya benda kulit hitam itu menyentuh paha saya. Nadanya menggelegar. "JANGAN KURANG AJAR KAMU,"

Saya shock. Mama dan Mbak Iyah tergopoh-gopoh datang melerai. Pesta belajar level advance berakhir mengerikan, pada soal pertama. Mungkin Bapak kesal. Si anak ini, udah datang minta diajarin yang lebih tinggi, tapi ngeyel lagi. Hih. Frame yang saya ingat selanjutnya adalah Bapak termenung di sofa ruang tamu. Asap rokok mengepul di udara dan memecah di langit-langit. Entah, rokok keberapa. Saya datang menghampiri Bapak. Kemudian duduk bersimpuh di dekat kakinya. Saya peluk Bapak seraya meminta maaf dan menangis di pangkuannya. 

Menangis bukan karena menyesali perbuatan saya. Menangis, karena saya diminta Mama untuk meminta maaf atas sesuatu yang saya sendiri tidak tau dimana salahnya.

Sejak saat itu saya takut sama Bapak. Bapak orang yang luar biasa. Dia menjaga saya saat terbaring di rumah sakit. Dia mengantar dan menjemput saya pada masa awal-awal saya kuliah. Dia bisa menyediakan komputer baru di rumah untuk saya. Hampir semua kebutuhan saya bisa dia penuhi.



Tapi yang Bapak tidak tahu, dia tidak pernah menyentuh emosi saya. Kecukupan kasih sayang emosional saya dapatkan dari Mama. Ketika kami pergi atau berbelanja, saya sering berharap Bapak tidak ikut (yang memang lebih seringnya tidak ikut), karena saya lebih nyaman bersama Mama. Curhat soal sekolah, saya lampiaskan ke Mama. Belajar agama, lebih banyak nanya ke Mama. Dan lain sejenisnya.   

Hubungan ayah - anak ini hanya hadir di tataran fisik saja.

Bersambung...

1 comment:

neni said...

kok sedih ya bacanya mas bim..nunggu lanjutannya.