11.7.15

Pledoi si Tambun No 23

Sebelas kali dentangan jam menyambut saya masuk ke dalam. Selebihnya senyap. Sesekali terdengar orang berbincang di warung kopi di depan rumah. Saya pun menghempaskan tubuh di atas sofa tak bersuara. Badan saya lelah bekerja seharian, mata pun sudah tak semangat untuk terbuka. Kombinasi antara capek dan kenyang setelah berbuka puasa membuat mata ini dan kelopaknya bagai kutub magnit yang saling tarik menarik. Cukup lama saya terdiam, untuk kemudian mengais-ngais energi mencoba berdiri. Mobil saya masih ada di luar dan harus dimasukkan ke dalam garasi...

Kali ini saya berhenti di meja makan. Dokumen kantor yang saya bawa diletakkan di atasnya. Tas yang saya panggul saya sampirkan pada kursinya. Saya kembali diam, sesekali berpikir apa saja yang saya akan saya kerjakan besok. Sejenak kemudian, dengan satu mata saya melirik ke atas meja. Dan di sana, di tengah meja, terdapat sebuah benda yang  harus saya genggam, angkat, dan buka. Seraya menahan napas, saya melakukan ritual terakhir yang selalu saya lakukan sebelum masuk ke dalam kamar.


Bismillah..



Dan di sana terhidang sepiring Nasi Goreng...

"Duh Gusti," ucap saya. Bersamaan dengan itu ada roll film yang seolah berputar di otak saya. Dalam film itu mbak Iyah sengaja meletakkan piring itu untuk saya. Walau berulang kali saya minta padanya tak usah menyiapkan makan malam, tapi dengan pintarnya ia mengusik kelemahan saya. Ia tahu betul saya bertekuk lutut pada nasi goreng. Saya pun tahu betul, itu memang buat saya. Jika makanan itu untuk Woro, adik saya, pasti sudah disantapnya. Masakan mbak Iyah memang benar-benar mematikan. 


Mungkin dalam tidurnya, Mbak Iyah tertawa puas.. 

Saya menarik piring nasi berwarna kecokelatan itu takut-takut. Saya amati konturnya, mengamati kuning telur yang keemasan dan daging sosis yang merah muda. Sempurna. Sesuap saya masukkan ke dalam mulut. Sesuap lagi. Lagi. Hingga saya sudah tak sadar diri. Bibir dan lidah saya mencumbu memburu. Saya dan nasi goreng bercinta malam itu.


Karena itu lah, selalu ada alasan untuk megapa tubuh ini begini.... 

[1] Gambar tudung saji diambil dari http://etnikita.blogspot.com/
   





No comments: