5.7.14

#AkhirnyaMilihJokowi


"Kebanyakan dari kita, ada masalah, kita semua ini, termasuk saya sendiri, mendiskusikannya, mengharapkan ada perubahan. Dan sambil berasumsi ada orang lain yang berbuat. Ada orang lain yang berbuat. Dan kalo ga ada yang berbuat, kita terus memproduksi keluhan. Itu namanya urun angan. Republik ga berubah dengan urun angan. Kita harus turun tangan! " - Anies Baswedan

Bohong, kalau saya bilangnya awalnya saya skeptis terhadap Pemilihan Presiden. Lima tahun lalu pun, saya dengan lantang mendukung Pak SBY dibandingkan dengan Megawati, dan Prabowo. Alhamdulillah, preferensi saya hingga saat ini tetap sama. Saya gak mau milih Megawati, begitu juga dengan Prabowo. Maka ijinkanlah saya menyampaikan alasan saya mengapa memilih Jokowi-JK. Sekali lagi, ini alasan saya. Berbeda pendapat tentu boleh saja. Pertimbangan yang saya pakai hanyalah pertimbangan yang sederhana. Kita tidak perlu berpikir  hingga kening berkerut, berikut:

Karya
Sebut saya egois. Tapi ketika memilih seseorang, tentu saya ingin yang paling banyak menguntungkan saya. Saya kenal Jokowi, melalui karya-karya yang saya rasakan sendiri.
  1. Malam tahun baru 2013. Ketika ribuan orang tumpah ruah di sepanjang Sudirman - Thamrin. Membuat saya harus jalan kaki pukul setengah satu malam dari bundaran HI ke Sarinah. Capek sih, tapi saya terharu. Bagaimana malam itu menjadi malamnya rakyat. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Gubernur sebelumnya.   
  2. Pertunjukkan Ariah saat ulang tahun Jakarta ke 486. Baru sekali itu saya melihat pertunjukan sebegitu megah. Baru kali itu pula Monas begitu menggetarkan hati saya. Dan Pak Jokowi juga ada di sana...
  3. APTB 07 dan Kopaja 602: Ragunan - Monas.  Merupakan produk Jokowi yang sangat saya syukuri keberadaannya. APTB 07 sudah pernah saya ceritakan di sini. Kecintaan saya pada Kopaja 602 disebabkan saya gak puas dengan bus Transjakarta yang sudah ada sebelumnya. Bus lama datangnya. Kebijakan Jokowi membuka kopaja untuk melewati jalur busway membuat saya nyaman jika perlu pergi dari kantor saya di Ragunan ke kantor pusat di Sudirman.   

Pengalaman-pengalaman ini yang juga dirasakan oleh banyak orang. Ketika Latuharhary kebanjiran. Ketika melakukan pengurusan KK di kelurahan. Ketika dia menyulap Waduk Pluit dan Tanah Abang. Oleh karena itu wajar jika saya ingin berbagi dan ingin mendapatkan untung lebih banyak lagi. Keuntungan yang saya inginkan sebenarnya sederhana. Bagaimana agar negara ini sejahtera.

Pertanyaan berikutnya, kenalkah saya dengan Prabowo? Kenal. Mantan menantu Pak Harto, seorang perwira TNI yang (menurut iklan di TV) jadi ketua HKTI. Apakah saya merasakan hasil kerja Pak Prabowo? Tentu tidak.

"Teman-teman, ketika ada orang baik, yang terpercaya, menjadi pemimpin di sebuah wilayah, apa yang terjadi di wilayah itu? Perasaan ada orang bertanggung jawab sedang kerja di sana." - Anies Baswedan.

Idola
Saya sesungguhnya orang yang rapuh. Ceileh. Gampang terpengaruh. Oleh karena itu, keyakinan saya masih bisa goyah, khususnya jika yang melakukannya adalah idola.
  1. Saya mengidolakan Anies Baswedan. Saya pernah ikut  gerakan Indonesia Menyala. Saya mendaftarkan diri sebagai relawan turun tangan.
  2. Pada putaran pertama Pemilihan Gubernur Jakarta, saya pendukung garis keras Faisal Basri.  Karena saya pernah berharap bahwa ekonom ini punya niat yang murni untuk membangun Betawi. Ketika dia tersingkir, saya belok ke Jokowi.
  3. Saya mengagumi @pandji. Saya selalu meminati setiap stand-up-nya. Selain kocak, bit-bitnya kerap membuat kita mengumpat dalam hati "anjrit, bener juga ya..". Seperti saya, @pandji mengidolakan Anies Baswedan.  

Bukanlah karena mereka super ganteng, apalagi super saiya. Tapi apa yang mereka perbuat, saya percayai, bukan didasari karena ambisi pribadi. Apa yang mereka yakini, saya percayai, menjadi sesuatu yang akan baik jika saya yakini.

Pak Anies, Pak Faisal Basri, Pandji mendukung Jokowi. Ditambah lagi beberapa orang lainnya yang -juga- saya kagumi mendukung Jokowi. Dahlan Iskan, Khofifah Indar Parawansa, Yoris Sebastian, Dewi Lestari, hingga Glenn Freddly. Maka atas dasar itulah saya berbulat hati.

Adakah idola saya yang mendukung Prabowo? Ada. Ahok dan Ridwan Kamil, yang saya yakini juga merupakan orang berkualitas dan berintegritas. Tapi sayangnya dua orang itu lebih sedikit jika dibandingkan dengan pendukungnya Prabowo yang bikin saya nyinyir.
  1. Ketua Partai yang saat pemilu sudah terang-terangan mendukung Prabowo. Kemudian dia dipertanyakan anggota partainya sendiri. Dia disuruh mundur karena melanggar ketentuan partai, kekeuh sumeukeuh emoh-ora gelem. Sekarang, malah jadi tersangka korupsi.
  2. Ketua Partai satu lagi yang jauh-jauh hari menggadang-gadang dirinya jadi capres. Masuk pemilu turun harga diri jadi cawapres, terus malah gak jadi apa-apa. Awalnya berencana bikin poros dengan Partai Logo Mercy. Besoknya mendekati Megawati. Eh, malah muncul di deklarasinya Prabowo. Jika orang awam yang seperti saya saja bisa melihat pasti ada apa-apanya, maka yang tidak melihat pasti luar biasa husnudzon-nya.
  3. Partai Logo Mercy, yang nebeng di tikungan terakhir. Sejujurnya, saya pribadi dulu gak terlalu mempermasalahkan soal "prihatin". Tapi, apa rakyat banyak mau prihatin lagi?      
Mungkin inilah salah satu alasan saya membuat tulisan ini. Bahwa, jika saya bisa terinspirasi orang lain, saya harap tulisan ini dapat menginspirasi pembaca. Khususnya pemilih yang masih belum menentukan pilihan. 

Penutup
Rasanya kita perlu mensyukuri, bahwa pemilihan presiden kali ini menjadi ajang pendidikan politik yang baik. Bagaimana dalam setiap proses pemilihan, akan ada isu hitam dan negatif. Harapan saya di pemilihan berikutnya banyak orang-orang berkualitas yang terdorong berkecimpung di politik aktif, sehingga Indonesia akan lebih baik lagi.  Oleh karena itu, potensi-potensi bagus tersebut harus kita dorong-dorong.

Seruan ini tidaklah akan berhenti sampai di sini. Jika Jokowi terpilih nanti, saya pun masih akan berteriak keras  jika ada indikasi sesuatu yang tidak baik akibat campur tangan dari  "ibu suri".

Marilah menjelang 9 Juli ini dan masa tenang nanti, tutup sosial media, pejamkan mata, dan dengarkan suara kecil dari hati.. 

Mungkin saja, suara itu berbunyi, "Mendukung Jokowi. Dengan atau tanpa dua jari ;)"

No comments: