4.9.13

Manajemen Penanggulangan Bencana di Rumah

Dari judulnya udah kayak Thesis ya.. Maklum, udah ketar ketir ga nemu judul thesis yang keren. Gimana dong....

Eniwei, di suatu malam yang syahdu, telepon rumah tiba-tiba aja berdering. Rada aneh juga mengingat saat itu jarum jam udah asyik ngorok di antara angka 2 dan 3. Berhubung pula hari itu saya disuruh adik antar dia ke pool Damri, jadi suara telepon itu menggelitik pendengaran saya yang sedang tidur-tidur ayam ini. Dengan langkah setengah sempoyongan saya turun menuju telepon yang ternyata sudah diangkat Mbak Iyah.

"Rumah sebelah bulik kebakaran," lapornya.



Cerita langsung aja diforward saat saya menyambangi rumah bulik usai mengantar adik (#rhyme). Rumahnya masih berantakan dan sebagian barangnya sudah diungsikan ke tetangga lainnya. Trauma dan letih terlihat di raut wajahnya. Ya siapa juga yang gak syok, rumah tetangga di sebelahnya persis terbakar habis. Mendengar ceritanya lebih lanjut bahkan membuat semakin terkejut. Peristiwa itu telah merenggut 2 korban jiwa.

jReng.. jreng...

Sang korban adalah istri dan ibu dari pemilik rumah. Sementara sang pemilik dan kedua anaknya mengalami luka bakar yang cukup serius. Banyak yang menduga-duga bahwa mereka tidak sempat menyelamatkan diri ketika peristiwa kebakaran terjadi. Sebuah alasan yang masuk akal dikemukakan bahwa ada kemungkinan SAAT KEBAKARAN TERJADI MEREKA KESULITAN UNTUK MENEMUKAN DIMANA KUNCI PINTUNYA..

jReng.. jreng lagi...

Saya jadi ingat kebiasaan di rumah, untuk mencopot kunci dari pintu dan meletakkannya di meja depan. Jika terjadi kebakaran, dan dalam kondisi gelap, setengah yakin saya akan kesulitan mencari dimana gerangan si kunci. Dengan kata lain, skenario di atas tadi dapat menimpa diri saya dan keluarga. Amit amit.

Di kantor-kantor biasanya kita sering dilatih soal penanggulangan bencana. Teman saya saja kerap heboh kalau sudah disuruh fire drill, karena bisa bikin ambeiennya kambuh (soalnya turun tangga dari lantai 30). Di kantor saya sendiri pernah dijalankan skenario jika terjadi gempa atau kebakaran, yang saya yakin sekarang sudah lupa, saking ribetnya prosedurnya ;p.

Lantas mengapa tidak dijalankan di rumah?? Berikut mungkin hal-hal yang bisa membantu untuk menanggulangi bencana di rumah.

  1. Simpan dokumen dalam satu tempat.
    Sehingga jika terjadi bencana macam banjir, kebakaran, gempa, dan konco-konconya, dokumen tersebut bisa dengan mudah diselamatkan. Yang termasuk dokumen penting antara lain akte lahir, kartu keluarga, surat nikah, ijazah, dsb. Lebih baik lagi jika memiliki safe deposit box di bank.

  2. Tempatkan alat-alat yang dibutuhkan di tempat yang mudah dijangkau, termasuk pada saat gelap.
    Alat-alat tersebut seperti dokumen penting di poin no 1, kunci rumah, dan senter.

  3. Jika ada uang lebih, tidak ada salahnya mengasuransikan rumah.
    Dengan asuransi kita sudah memiliki proteksi, kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada rumah kita.

  4. Berikan nomor telepon kolega pada orang rumah.
    Sebenarnya ini bukan menghindari bencana di rumah, tapi tidak kalah pentingnya. Dulu waktu kecil kebiasaan ini sering kami lakukan. Bahkan saya dan adik saya saing-saingan banyak-banyakan nomor telepon yang bisa ditempel di dinding telepon. Tapi kebiasaan itu sekarang sudah tidak ada. Yang saya khawatirkan, ketika terjadi sesuatu pada kami di luar rumah (diculik penggemar, misalnya). Mbak Iyah akan sangat kebingungan sekali, harus menghubungi siapa untuk bertanya.

Setiap orang tidak menginginkan bencana menghadap. Tapi lebih baik kita siap, daripada ia muncul dan kita terkesiap.

[1] Gambar dari http://vwordpress.stmarys-ca.edu

1 comment:

cicianggitha said...

1. done. etapi kunci SDB dimana yak? *panik*
2. pe-er ni
3. pe-er banget. duit sih ada, yg mau diasuransiin yg belom ada.. *gagalSombong*
4. done. lebih karena hapenya omD lebih sering mati daripada nyala, so incase of emergency.... :D