8.5.13

(film) 9 Summers 10 Autumns


Tahun ini rasanya para penulis bisa sedikit sumringah. Pasalnya fenomena adaptasi film dari novel populer tengah menjamur macam kutu air. Salah satunya film 9 Summers 10 Autumns karangan Iwan Setyawan. Novel otobiografi (jika boleh disebut demikian) ini, menceritakan kisah nyata penulis, seorang anak supir angkot Batu Malang, yang sukses menjadi direktur perusahaan besar di Nyiiuuu Yok.. Nyiiiuu Yooook!!! (tolong dinyanyikan ala Mr Sinatra).

Jika melihat dari bukunya mungkin saya akan melewatkan film ini begitu saja. Ya, meski banyak klaim mengatakan bagus - smoga bukan karena paham persaudaraan i-pe-be-isme -, bagi saya bukunya itu menjemukan. Alurnya lambat sekali. Tapi ternyata beberapa review blogger mengenai film ini bernada positif. Oleh karena itu, Minggu lalu saya dan beberapa rekan menyempatkan diri menonton di bioskop yang gak semua ada ini.

Iwan Setyawan harus mengucapkan ribuan terima kasih pada Ifa Isfansyah (Garuda di Dadaku, Sang Penari) yang meramu film ini dengan brilian. Sinematografinya indah, membentangkan hijau dan sejuknya panorama Batu, Malang. Selain itu Ifa disiplin dalam mengikutsertakan properti-properti yang hiiiits pada jamannya, seperti uang lawas, komputer dengan monitor segede gaban, hingga ke tren telpon satu detikan buat fakir pulsa. Skenario yang dikerjakan beramai-ramai pun menghindarkan penonton dari rasa bosan.

Tak bisa dipungkiri juga dukungan jajaran cast yang mumpuni. Banyak yang bilang Ihsan Tarore mencuri perhatian di sini. Iya sih, tapi menurut saya kadang suka berlebihan. Apalagi soal tasnya.. hahahaha (nonton deh, Insya Allah akan tahu apa yang saya maksud). 4 jempol harus saya acungkan untuk duo Alex Komang dan Dewi Irawan yang sukses membuat saya mbrebes mili.



 Ah, tapi film-film bertema hubungan orang tua - anak emang bikin saya lebih sensitif sih... :D

*Gambar diculik dari kapanlagi.com


2 comments:

ray0fsunshine said...

waaa waaa blom nonton nih, udah 1 tahun 13 bulan 2 minggu ditambah 9 bulan 10 hari nggak bioskop *curcol*

Haikal said...

Mas, kamu cocok sebagai ahli resensi aja, sekaligus promosi. Sutradara film mesti berterima kasih kepadamu. Nice resensi mas