19.1.13

Sebuah Kisah Tentang Gigi

Hai, apa kabar kalian semua? Banjirkah? Semoga kalian bisa tidur nyenyak malam ini..

Nyaris 28 tahun hidup, Alhamdulillah, saya belum pernah mengalami sakit gigi. Begitu pula dengan silaturahmi  ke dokter gigi. Sayang juga sih, karena sepengetahuan saya banyak dokter gigi yang tjakeup..

Sampai dua minggu yang lalu, gigi kanan saya sepertinya mulai unjuk rasa. Salah saya sendiri sih karena pemakan segala, sampai tulang ayam dikunyah juga. Akibatnya salah satu gigi ada yang gompal1. Saya gak tau sih beneran gompal atau tidak. Setidaknya lidah saya merasakan begitu karena sekarang dia suka main-main ke gigi tadi. Sakit sih enggak, tapi saya sempat kesulitan membuka mulut saya ketika makan. Saya tanpa makanan? Hmmm...




Malam ini seorang penulis bernama Ika Natassa menulis hal menarik di twitternya tentang cinta dan gigi. Cekidot...
my dentist once told me that letting go is like pulling a tooth
when it was pulled out, you're relieved, but how many times does your tongue run itself over the spot where the tooth once was?
probably a hundred times a day
just because it was not hurting anymore doesn't mean you didn't notice it. i leaves a gap and sometimes you see yourself missing it terribly
it's going to take a while, but it takes time.
should you have kept the tooth? no, because it was causing you so much pain. therefore, move on and let go.

Jadi ayah Megi, mendingan sakit gigi apa sakit hati?


1. Mari nanya ke JS.Badudu, gompal itu dah masuk ke kata baku belum yah?
2. Gambar diambil dari rarebirdfinds.typepad.com

5 comments:

aldi said...

iya Bim
drg.Sherly di Bakmi Balap Benhil, meriksanya enak, biaya terjangkau dan..... ya cantik tadi

MoMo said...

*catet*

echi said...

Klo ke dokter gigi ajak2 ya..:)

MoMo said...

Tapi bayarin aku ya???? :D

uliyrobbayani said...

iya ih, bener juga perumpamaan gigi dan cinta... jadi bim, daripada nyakitin terus mending move on deh :p