19.12.12

I am Adam Lanza's mother

Masih teringat Jumat malam itu, saat saya sampai ke rumah mendapati mbak Iyah bermuram durja tidak seperti biasanya.

"Bapak gimana, mbak?"

Mbak Iyah diam tanpa jawaban. Sesuatu tak terlihat terasa merangkul saya, merindingkan bulu roma. Di kamar adik saya, saya lihat bapak dalam tingkah yang aneh. Gerakannya seperti ingin meraih sesuatu berulang-ulang.

Tak tega melihat bapak tidur di kasur yang sempit, saya memutuskan untuk memindahkannya ke kamar dia yang lebih besar. Kamar yang sudah tidak pernah ditidurinya semenjak kepergian mama. Tak berapa lama kemudian dengan susah payah kami berdua mencoba membopong bapak ke kamarnya. Tubuhnya yang besar mengalahkan kekuatan kami berdua. Setengah perjalanan kami hampir tersungkur.

"Maaf ya, Pak" berkali kali saya ucapkan tapi nampaknya bapak sudah tidak peduli.

Usai menelepon keluarga memberitahu kondisi bapak, saya susul mbak iyah yang masih diam seribu bahasa ke dapur. Saya lihat dia sedang membuatkan minuman. Entah untuk bapak, entah untuk saya. Di tempat itu kami mengulang hal yang kami lakukan 2 tahun sebelumnya.

"Mbak iyah yang sabar ya.... "
"Kasihan bapak, mas.." ia menangis dalam pelukan saya.
"Iya. Mbak iyah temenin aku ya.. Aku ga bisa sendiri... "

Dan saya tidak bisa membendung air mata saya lagi. Ada rasa bingung, sedih, takut campur jadi satu. Satu lagi rasa yang paling sering muncul:  adalah tidak berdaya.

Memori setengah tahun lalu itu kembali menyeruak ketika saya membaca artikel ini. Artikel yang kemudian terkenal dengan judul "I'm Adam Lanza's mother". Artikel ini berisi curhat seorang ibu mengenai anaknya yang "berperilaku khusus".
I live with a son who is mentally ill. I love my son. But he terrifies me.

A few weeks ago, Michael pulled a knife and threatened to kill me and then himself after I asked him to return his overdue library books. His 7 and 9 year old siblings knew the safety plan—they ran to the car and locked the doors before I even asked them to. I managed to get the knife from Michael, then methodically collected all the sharp objects in the house into a single Tupperware container that now travels with me. Through it all, he continued to scream insults at me and threaten to kill or hurt me.

That conflict ended with three burly police officers and a paramedic wrestling my son onto a gurney for an expensive ambulance ride to the local emergency room. The mental hospital didn’t have any beds that day, and Michael calmed down nicely in the ER, so they sent us home with a prescription for Zyprexa and a follow-up visit with a local pediatric psychiatrist.
Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Bohong dink. Yang pernah saya rasakan hanyalah secuplik kecemasan, ketakutan, dan ketidakberdayaan mereka. Bagaimana mereka setiap hari hidup dalam ketidakpastian akan keselamatan putranya maupun diri dan keluarganya sendiri. Bagaimana jika itu menimpa keluarga saya sendiri?
Michael was in a full-blown fit by then, screaming and hitting. I hugged him close so he couldn’t escape from the car. He bit me several times and repeatedly jabbed his elbows into my rib cage. I’m still stronger than he is, but I won’t be for much longer.

The police came quickly and carried my son screaming and kicking into the bowels of the hospital. I started to shake, and tears filled my eyes as I filled out the paperwork—“Were there any difficulties with....at what age did your child....were there any problems with...has your child ever experienced...does your child have....”  

At least we have health insurance now. I recently accepted a position with a local college, giving up my freelance career because when you have a kid like this, you need benefits. You’ll do anything for benefits. No individual insurance plan will cover this kind of thing.
Saya mencoba menduga duga mungkin inilah mengapa orang, terlebih pria, suka menyendiri dalam menghadapi masalah. Meski dihujani dukungan dari sanak famili karib kerabat, setiap masalah memang harus dihadapi sendiri. Makanya rasa sendiri dan kesepian lumrah dirasakan. Jika sudah demikian, siapa lagi yang harusnya diandalkan??
God help me. God help Michael. God help us all. 
Note: ditulis dari blogger for Android. Ciyeeh.

2 comments:

someonewhocare said...

nice,,, *pukpuk*

MoMo said...

Tengkyuh...