9.9.12

Hidup Seperti Matematika

Haaaaaaaaaaaaaaah.. (bikin bau naga panjang)

Sebenarnya ada rasa dilema untuk nulis artikel ini. Pengen, gak pengen. Khawatir nanti dipikir gimanaaa gitu. Tapi daripada blog ini ditumbuhi jamur atau sarang laba-laba, yah marilah. Siapa tau juga berguna bagi pembaca budiman (walau gak yakin juga).

Cerita ini dimulai dari sebuah kata. Rutinitas. Rutinitas adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, dalam periode yang relatif tetap. Misalkan ibu-ibu yang tiap pagi belanja di tukang sayur ujung gang depan, para pemuja metromini 62 yang setia nunggu tiap pagi di gerbang Jatibening, atau curi-curi pandang ke kamu di kantor (...... --> tuliskan simbol kres, beberapa huruf e dan a di sini). Saking rutinnya, kadang kayak ada mode autopilot yang bikin kita ga sadar saat ngerjainnya. Tapi sesuai ilmu kelembaman, energi yang terbesar itu akan dikeluarkan ketika sesuatu yang rutin itu terguncang.


Hal yang sama terjadi di lingkungan saya, dan seorang teman. Hampir setiap hari kami dan teman-teman lain nongkrong di what's app. Mulai dari membahas hal yang gak penting, hingga ke topik-topik yang kamu rasa gak perlu dibahas di forum belahan manapun. Tapi seminggu ini rutinitas itu terhenti. Gak ada lagi postingan iseng, atau celetukan meledek dari dia. Mungkin gak semua anggota group sadar, tapi intuisi saya berkata ada sesuatu(tm). Saya tanyakan ke dia, apakah ada masalah, dia bilang sih gak ada. Tapi saya gak merasa demikian. Saya yakin, pasti ada. Keukeuh kan? Istiqomah kan?

Inilah sebenarnya kelemahan saya. Ketika mengetahui ada teman yang bermasalah, hati saya jadi gak tenang. Saya benci tidak dapat mengatasi kegundahannya. Saya benci karena saya tidak punya kesempatan, setidaknya untuk menjadi pendengar yang baik. Saya mulai berpikir, bahwa dia tidak membiarkan saya mendengarnya. Kalau masalah itu tidak berimplikasi pada orang lain, mungkin akan biasa saja. Tapi karena ini ada pengaruhnya juga ke saya, ya gak bisa egois gitu lah! Nah, lama-lama saya benci sama dia. Pusing kan? Sama!

Saya belingsatan selama seminggu. Kadang saya bicara sama diri sendiri, "Sebelum lo tanya sama dia apa masalahnya, baiknya lo ngaca terus tanya sendiri sama diri lo". Wong dia aja gak peduli sama masalahnya, terus kenapa saya harus bermasalah? Jangan-jangan sebenarnya selama ini saya aja yang lebay?? Terus ngapain juga saya ngurusin masalah orang lain? Saya mulai deh, menyalahkan diri sendiri. Untuk persoalan yang tak tahu pangkalnya, saya putus asa dalam kerumitan..

......hingga saya mendapatkan sebuah pesan dari Mas Danang, teman kuliah saya yang baiknya kebangetan itu. Sepertinya forward dari group lain, tapi pesannya kena sekali buat saya.

"MENANAM RASA BAHAGIA"

Sahabat bernama Hasan. Orangnya bersahaja. Ia punya kebiasaan yang menurut saya sangat langka. Kalau beli sesuatu dari "pedagang kecil", ia tidak mau menawar, malah seringkali jika ada uang kembalian, selalu diberikan pada pedagangnya.

Pernah suatu saat kami naik mobilnya, mampir di SPBU. Hasan berkata kepada petugas SPBU, "tolong diisi 95 ribu saja ya,"
Sang petugas merasa heran. Iapun balik bertanya, "kenapa tidak sekalian 100 ribu pak?"
"Gak apa-apa isi saja 95 ribu," balas Hasan.

Selesai diisi bensin, Hasan memberikan uang 100 ribu. Sang petugas pun memberikan uang kembalian 5 ribu. Hasan berkata, "Gak usah, ambil aja kembaliannya,"

Sang petugas pun seperti tidak percaya. Ia pun berucap, "Terima kasih Pak. Seandainya semua orang seperti Bapak, tentu hidup kami tidak susah dengan gaji pas-pasan sebagai pegawai kecil,"

Saya tertegun dengan perilaku Hasan, dan juga petugas tersebut. Di dalam perjalanan, saya bertanya pada Hasan, "Sering melakukan seperti itu?"

Hasan menjawab, "Temanku, kita tidak mungkin bisa mengikuti semua perintah Tuhan. Lakukanlah hal-hal yang kecil yang bisa kita lakukan disekeliling kita, yang penting konsisten. Kita tidak akan jatuh miskin jika setiap mengisi bensin kita bersedekah 5 ribu kepada mereka. uang 5 ribu itupun tidak akan membuat dia kaya, tapi yang jelas membantu dan membuat hatinya bahagia."

Hiduplah tiap hari seperti matematika.
Mengalikan sukacita,
Mengurangi kesedihan,
Membagi kebahagaian,
Dan menguadratkan kasih antar sesama

Saya ulangi bait terakhir kali itu dalam-dalam.

Hidup memang seperti Matematika.
Kadang persoalannya dah bikin rambut rontok.
Jawabannya butuh penyelesaian yang kompleks.
Maka kita bisa bantu cari rumusnya.

Bos saya sering bilang, pemrograman itu cukup if-then-else.
Kalau hidup seperti Matematika, maka gunakanlah operasi yang ada
Menambah hubungan pertemanan
Mengalikan sukacita,
Mengurangi kesedihan,
Membagi kebahagaian,
Dan menguadratkan kasih antar sesama,

Mau bermasalah ataupun engga. Untuk kebahagian orang lain dan sesama, saya gak boleh menyerah. Gak akan.


[1] Gambar diambil dari funny-pictures-blog.com
[tm] Damn, you. Syahrini..

5 comments:

cicianggitha said...

grup wasap yg mana sik? (... <-- berikan tanda kres, huruf K, huruf E, huruf P, dan huruf O secara berurutan)

MoMo said...

Adalah kak... Itu.. group salah satu penganut waham inuliyah... Hahahah

uliyrobbayani said...

jadii... masih penasaran dia kenapa ato mau main matematika? :D -?!?-

MoMo said...

Saya maunya main hati aja,, :))

Mega Rachmani said...

Hidup seperti Matematika ? artinya sejak aku lahir sudah belajar matematika. Tapi kenapa nilai Matematika di SD selalu dapat nilai 5 ? *DL deh* :p