19.7.12

Penghuni Bukit



Atas nama blog yang kece inih, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga di Ramadhan kali ini kita bisa meningkatkan derajat keimanan kita. 

Mobil itu bergerak menjauh menjadi sebuah titik kecil, kemudian menghilang di balik bukit hijau yang terhampar di depan rumahnya. Pria itu berdiri mematung di sana, tangannya melambai-lambai melepaskan kepergian orang-orang di dalam kendaraan tersebut. Keasyikannya itu terputus oleh tepukan sebuah tangan di pundaknya.


"Ngeliatin siapa toh, Pak?"
"Itu, Mah. barusan Darma dan Widia kemari,"
"Oh ya?? Kok aku ga dikasih tau?"
"Aku gak tega lihat kamu tidur, Mah."
"Maaf, Pak. Aku ngantuk sekali. Pagi tadi udara terlalu panas. Aku jadi sulit tidur,"
"Ooo.."
"Bagaimana kabar mereka?"
"Sepertinya baik. Widia terlihat gemukan,"
"Gemukan? Jangan-jangan hamil??"
"Hush! Kamu ngomong apa tho? Ngaco aja!"
"Terus mereka bicara apa aja, Pak?"
"Mereka minta maaf, kalau selama ini jarang main. Banyak kesibukan."
"Ah dari dulu saat kita masih tinggal bersama, Darma juga sibuk kerja terus kan Pak?"
"Ya, mungkin jaman sekarang begitu, Mah. Demi memenuhi kebutuhan hidup, kadang kepala harus jadi kaki. Begitu pula sebaliknya,"
"..."
"Toh dulu Darma membelikan kamu susu diabetes kan dari gaji pertamanya?"
"Iya sih, Pak. Kalau masalah perhatian, aku tidak ragu dengan Darma. Makanya aku yakin Widia akan baik-baik saja,"
"Tapi nampaknya Widia masih sedih gara-gara kita pergi dari rumah, Mah."
"Masa sih? Emangnya dia bilang begitu?"
"Ya enggak. Widia itu kan keras orangnya, Mah. Tapi dari sorot matanya, Bapak lihat sinar kerinduan,"
"Dia kan memang mengidolakanmu, Pak."
"Dengan kamu juga lah, Mah. Apa kamu tidak ingat, saat kamu pergi, dia membawa sebungkus ayam goreng untukmu? Ituuu dia pasang bunga tercantik buat kamu,"
"Iya sih.."
"Nah,"
"Mungkin, ada baiknya kamu sesekali yang ke sana, Pak."
"Tidak, Mah. Aku lebih baik di sini menemanimu,"
"Ah, Bapak gombal. Dua tahun terakhir, aku juga sendirian di sini kok,"
"Justru karena itu..."
"Sudahlah, Pak. Toh sekarang ada Bu Edi, tetangga baru kita. Orangnya baik, Mamah ga bakal kesepian,"
"Tapi..."
"Kamu kayak mau pergi berapa lama aja, Pak? Ayolah mumpung masih bisa,"
"Baiklah, besok bapak menemui mereka,"
"Sampaikan salamku ya Pak."
"Oke, Mah. Sekarang temani Bapak tidur yuk. Mereka habis berdoa, rumah kita lapang hari ini"



[1] Picture's taken from karawang.olx.co.id

6 comments:

Ardhita Maharindra said...

Biasanya bapak dan ibu, mamah dan papah, heheh ini kombinasinya bapak dan mamah ya mo?

Selamat menunaikan ibadah puasa ya mo ^_^

MoMo said...

Sama-sama Ardhi... ^^

Arshadie Sadrifa said...

yuk mah,,, :">

Catur Adi Nugroho said...

Bimo yang sabar ya. Selamat menunaikan ibadah puasa. :) Be a stronger man for your special sister.

arytera said...

Bimoooo :hug:
Doa-doamu selalu dinanti :)

n1ngtyas said...

ciee, Catur.. ewh, bim. ini kenapa captchanya 'ymotox'.. maksudnya 'you montok' gitu? ha?! #perasa