3.4.12

House Of Sampoerna

Pertama-tama, nampaknya saya harus mengucapkan selamat melepas keperawanan untuk sahabat sejiwa, hai Cici Anggitha. Semoga perjalanan hidupnya bersama si kangmas dapat langgeng hingga kakek dan nenek.

NAH, sebagai seorang teman yang baik hati, tampan, dan juga tidak sombong, pagi hari saya sudah menjejakkan kaki di Surabaya demi menghadiri resepsi Cici. Resepsinya sendiri di Kediri, sementara saya dan sahabat lainnya sudah janjian akan berangkat dari kota pahlawan itu pada pukul 3 sore. Menyadari ada waktu luang, saya manfaatkanlah untuk mengunjungi objek wisata yang ada di Surabaya. Satu yang langsung muncul di kepala dan sudah lama saya impikan untuk mengunjunginya adalah House Of Sampoerna.

Bagi yang belum tau, House of Sampoerna itu semacam museum yang menceritakan mengenai bisnis perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Siapa sangka cikal bakal pendiri Sampoerna, Liem Seng Tee, ternyata anak adopsi sebuah keluarga di Bojonegoro. Bersama istrinya, ia memiliki sebuah warung yang menjual bahan makanan pokok, yang akhirnya menjadi perusahaan besar yang menarik minat Philip Morris.


Untuk memasuki House Of Sampoerna ini gretong alias gratis. Hanya menuju ke tempat ini saja dari Bandara Juanda saya menghabiskan 110 ribu dengan taksi. Mungkin bisa lebih murah dengan moda lain. House of Sampoerna terdiri dari dua lantai. Lantai pertama mengisahkan perjalanan perusahaan pemilik produk berlogo 234 itu. Ada foto komisaris serta dewan direksi dari jaman dulu hingga saat ini.



Di lantai dua, kita bisa membeli cendera mata yang ada dan juga, yang paling menakjubkan, melihat proses pembuatan rokok. Dari lantai ini terlihat sebuah ruangan besar dengan ratusan pekerja yang sibuk melinting rokok satu per satu secara manual. Edun. Di jaman Ridho Rhoma nyambangin sevel kayak gini, masih ada proses yang sedemikian manual. Tapi lihatnya menarik sih. Para pekerja bersemangat Gerakannya cepat dan seragam, macam sendratari kolosal. Sayang ga boleh di foto.


Usai mengunjungi museum, sahabat saya masih belum juga datang menjemput. Karena waktu sudah siang dan naga-naga di tubuh saya belum diberi pakan, saya mampir ke cafe HoS yang ada persis di sebelah museum. Cafe ini menyediakan makanan western dan juga lokal. Harganya seperti cafe-cafe di Jakarta, dan rasanya biasa saja (untuk menu yang saya kunyah saat itu).


Oh ya, objek wisata House Of Sampoerna juga punya program Surabaya Heritage Track dimana kita bisa berkeliling Surabaya sambil memperoleh informasi mengenai jejak sejarah dan budaya yang ada di dalamnya. Jika bingung mau kemana ketika ada di Surabaya, opsi ini rasanya bisa jadi pilihan.

3 comments:

aldi said...

ah masa ga boleh difoto?

http://img715.imageshack.us/img715/5855/pict0107xb.jpg

*pamer

MoMo said...

gak bisa diliat kang fotonya.. fuuu

cicianggitha said...

ho-oh Mo, aku jg pernah dilarang sm mbak-mbaknya pas mau ngefoto... :D