12.10.11

Bekasi Jazz Festival 2011

Saya orang Bekasi. Tinggal di tepian Jakarta. Sejujurnya saya penduduk labil yang kadang mengakui identitas saya sebagai warga Jakarta, kadang juga Bekasi. Akhir pekan lalu, warga Bekasi boleh berbangga hati atas gelaran Bekasi Jazz Festival di kota tapal batas itu. Saya sendiri sempat mencicipi menikmati pertunjukan di hari pertama.

Datang pukul 18.30, saya kebingungan mencari venue acara. Ternyata acara sendiri dibagi di tiga tempat, di depan Bekasi Square, di dalam atrium, dan yang utama, di atas atap. Setelah muter-muter, akhirnya ketemu juga tempatnya. Melalui run down yang diberikan, saya ternyata melewatkan Indro Hardjodikoro & The Fingers. Ya sudahlah, lagipula saya juga bukan penggemar Jazz yang berat. Panggung utama sendiri terbagi menjadi 2, panggung A dan panggung B. Berikut rekapnya.

The Galaxy Jazz Big Band

Big Band ini berisi ekspatriat Jepang yang sering latihan di Yamaha Studio. Sebagian besar pegang brass instrument macam trompet, horn, dan sax. Mereka membawakan beberapa lagu. Gak banyak yang saya mengerti, hanya Georgia On My Mind-nya Ray Charles dan Can't Take My Eyes of You yang menjadi lagu penutup. Tapi masih mendinglah saya cukup respek dengan penampilan mereka, ketimbang beberapa pengunjung yang dengan teganya nyanyi sendiri "Dimana... dimana... Kemana.. Kemana.. ". Rasanya pengen saya dorong dari atap. Melihat penampilan Galaxy Big Band, saya jadi nyesel kenapa dulu ga belajar alat musik tiup, padahal napas saya cukup boros. Sekarang kalo liat orang bisa maen alat musik jadi berasa keren.

Ireng Maulana

Om Ireng Maulana kembali datang di tahun kedua Bekasi Jazz Festival. Tiga lagu mereka bawakan secara instrumental, untuk kemudian, jeng... jeng.. dia mengundang seorang diva jazz di jamannya: Ermi Kulitt. Penampilan si tante Ermi masih segar, mungkin karena sering ganti kulit? *ditombak* Tiga lagu dibawakan oleh si tante tanpa cela, yang saya tak tau judulnya :p. Kemudian dia mengajak kita untuk bernostalgia dengan tembang Kasih dan Pasrah yang pernah dipopulerkannya. Di dua lagu terakhir itu saya bisa ikut nyanyi-nyanyi, di tengah para pemuda dan pemudi tanggung yang kebingungan ini lagu apa. Hahaha.


Selesai penampilan dari Ireng Maulana, saya terpaksa cabut dari arena karena perut saya yang seperti diremas-remas. Inikah rasanya datang bulan? Akhirnya saya mampir untuk makan dan menenggak norit. Saya istirahat sebentar dan meninggalkan Yovie Widianto di atas sana. Kembali ke arena, saya sudah menemukan duo suami istri ini di atas panggung.

Endah n Rhesa

Menurut saya, penampilan mereka adalah penampilan paling interaktif, romantis, fantastis di Bekasi Jazz Festival hari pertama ini. Membawakan lagu-lagu dari dua albumnya, sesekali saling goda dan gesture-gesture kasih sayang mereka di panggung mengundang teriakan-teriakan histeris dari EarFriends di bawah sana. "Unyuu banget siih". Atraksi yang luar biasa ditampilkan melalui lagu I Don't Remember-nya RHCP dan tak lupa pula menyisipkan When You Love Someone sebagai bekal kegalauan sebagian besar penonton muda waktu itu. Termasuk saya. Ga sadar umur? Biarin.


The Logic

Kelar Endah n Rhesa, The Logic mulai menghentak. Group band ini berasal dari Australia. Membawakan 3 buah lagu instrumental yang cukup panjang, cukup membuat saya bosan. Seperti yang saya bilang, saya bukan penggemar jazz sejati, apalagi kalo sudah instrumental. Saya suka menyanyi jadi lebih senang kalo ada orang yang menyanyi :D. Beruntung kemudian vokal group Sweet Voices bergabung dalam kolaborasi dengan The Logic untuk membawakan beberapa lagu, antara lain Java Jivenya Manhattan Transfer dan lagu Rame-ramenya Utha Likumahuwa (padahal saya taunya itu lagu Glenn Freddly loh :P). Kendala klasik yang dihadapi sebuah group vokal dengan banyak personil adalah miking yang gak begitu jelas. Mungkin juga karena ketutup sama suara intrumennya juga.

Ten2Five

Baru aja The Logic bilang dadah babay, Ten2Five dari panggung lain menyabet dengan Lir Ilir. Oh ya tadi saya sudah bilang kan, kalau ada dua buah panggung di venue utama ini. Nah, dua panggung itu bukan bermain secara serempak melainkan bergantian. Jadi mulai dari penampilan Indro di sore tadi hingga akhir nanti, penonton ibarat lagi sai. Kelar penampilan di panggung A, lari ke panggung B. Panggung B kelar, balik lagi ke panggung A. Sukses bikin saya pegel, tidak menyurutkan saya yang berjiwa muda ini menghampiri Ten2Five ke dekat panggung. Dan woow, tato punggung si vokalisnya keren mak.


Setiap dengar lagu Lir Ilir rasanya ada nuansa magis yang tercipta. Menunjukkan rasa cinta pada tanah airnya, group band ini juga membawakan Cik Cik Periok dan Kicir Kicir di malam itu. Tak lupa juga mereka melengkapi kegalauan dengan lagu I Do, Hanya Untukmu, You, dan ditutup dengan I Will Fly yang jadi lagu wajib di setiap pertunjukan group yang terbentuk di Perth ini.

MYMP


Mungkin ini group yang ditunggu-tunggu di Bekasi Jazz Festival. Group asal Filipina ini memang tengah naik daun. Sayangnya saya pribadi ga begitu tau lagunya. Mungkin faktor umur saya yang lebih mendekati Ermi Kulitt tadi. Saya malah tertarik dengan gerakan Juliet Bahala, si vokalis yang kayaknya sibuk narik-narik roknya. Uuuh, it was already night and I couldn't freeze my dirty brain.

Seiring dengan saya menemukan singkatan dari MYMP - Make Your Mama Proud, saya juga teringat bahwa saya Make My Papa Waiting.. at home. Jadi, sebelum event ditutup dengan Barry Likumahuwa Project, saya sudah meninggalkan arena dengan cukup puas.

Bravo Bekasi Jazz Festival. Semoga tahun depan bisa terus berlangsung.

PS: Hingga artikel ditulis, saya masih membutuhkan si norit dan kemudian berguling guling di kasur. Perlukah saya minum Kiranti??
PSS: Semua copyright gambar ada di Jazzuality.com

1 comment:

iamedel said...

jadi, gimana efek kiranti? *bahkan gw aja ga pernah minum*