28.5.11

Jabang Tetuko

Beberapa waktu lalu, melalui FB, saya di-mention oleh Bhagas, mengajak menonton pertunjukkan berlakon "Jabang Tetuko" di Senayan City. Disebutkan dalam iklannya, pertunjukan ini menawarkan sebuah konsep yang baru, yakni menggabungkan konsep teater, film, wayang kulit, dan orkestrasi dalam sebuah seni pertunjukkan. Pertunjukan ini juga menggadang nama Deane Odgen sebagai penata musik, dan juga Benjamin Rowe sebagai koordinator aksi.



Seperti halnya pertunjukan lain yang mematok harga yang bikin jakun pekerja berdompet mahasiswa seperti saya naik-turun, awalnya saya agak ragu untuk nonton. Apalagi tiba-tiba Bhagas membatalkan niatnya karena orang tuanya datang, membuat saya sejenak berpikir bahwa jangan-jangan sesungguhnya itu petunjuk Tuhan. Tapi kemudian salah satu rombongan pencinta seni pertunjukan kantor, Miss Cici, ngompor-ngomporin yang lainnya buat nonton. Setelah berdebat cukup seru dalam menentukan kasta kelas pertunjukan yang akan dibeli, berangkatlah saya, Miss Cici, Mr Wedhasmara, Mas Andre, dan Catur buat nonton Jabang Tetuko.

Jabang itu artinya "bayi" dan Tetuko itu artinya "tertukar". Jadi kisah Jabang Tetuko ini mengisahkan tentang bayi Gatotkaca, putra Bima yang merasa memiliki kedekatan batin dengan Pak Prabu, ayah dari Zahira.

*ssiing dilempar candi sama R.A Kosasih.....*

Kisah Jabang Tetuko sesungguhnya menceritakan soal kelahiran Gatotkaca, putra Arimbi, wanita cantik keturunan raksasa, yang melahirkannya secara sesar. Hal ini disebabkan setelah lama diinduksi diketahui si Jabang Tetuko posisinya sungsang.

*candi kedua dikirim Jan Mintaraga.....*

Si Jabang Tetuko, bayi mungil ranum tak berdosa ini, mendapatkan amanah untuk mengalahkan raksasa Kalapracona, yang sedang menyerang khayangan, tempat tinggal para Batara. Jabang Tetuko, panggilan kecil si Gatot, memiliki keanehan pada tali pusarnya yang ogah dipotong sama sembarang alat. Oleh karena itu, diutuslah Arjuna untuk mengambil alat pemotong, known as senjata Kunta, dari Narada. Batara Surya yang agak-agak jealous, memerintahkan matahari untuk membuat Narada berteriak "Awww, Silau Men!!", sehingga Narada salah menyerahkan senjata Kunta itu pada Karna. Terjadilah pertempuran sengit antara Arjuna dan Karna. Sayangnya Arjuna hanya dapat sarungnya saja.

Mpu Vyasa, pengarang epos Mahabarata, yang nampaknya menganut prinsip "Tak Ada Rotan Raam Punjabi", membuat Pandawa mencoba memotong tali pusar dengan sarung Kunta. Yang terjadi malah tuh sarung melesak masuk ke perut sang bayi. Singkat kata singkat cerita, Jabang Tetuko dibawa ke khayangan buat di-secapa-kan. Salah satunya dengan merebus dia di dalam kawah Jonggringsalaka (emang tega bener deh para Dewa, dipikir bikin garang asem apa??). Akhirnya cerita, si Gatotkaca berhasil mengalahkan Kalapracona dan khayangan pun kembali aman dan tenteram.

Fyuh, kembali ke pertunjukan. Pertunjukan wayang orang memang selalu menggugah hati saya. Apalagi ditambah dengan tata cahaya yang ciamik dan spektakuler, serta orkestrasi yang manthabbb banget, membuat cerita terasa semakin menggigit. Sutradara pertunjukan juga saya rasa pintar membuat setting yang begitu dekat dengan penonton, seperti saat Jabang Tetuko main kejar-kejaran dengan para raksasa. Mereka dengan bebas lari kesana kemari di barisan kursi penonton. Tak kalah aksi memukau yang disuguhkan saat kita melihat pertarungan Arjuna vs Karna, mengingatkan kita pada adegan laga Hollywood.

Akan tetapi, benar yang direview sama detik.com, frekuensi tariannya yang sedikit, membuat terasa ada greget yang hilang. Selain itu, banyaknya elemen yang terlibat (film, panggung, dan wayang kulit) sejujurnya bikin saya gak nyaman. Seperti yang saya katakan sebelumnya, mungkin jika berupa pertunjukan seni panggung, tanpa harus menggabungkannya dengan film dan wayang kulit, akan menjadi lebih baik. Tapi itu masalah selera pribadi lho ya...

Kekurangan lain terletak pada setting gedung pertujukan yang memang tidak di desain buat seni pertunjukan panggung (setidaknya kursi penonton tidak bertingkat). Selain itu, adegan pertempuran antara Gatotkaca dengan Kalapracona yang menggunakan sling-sling itu masih belum smooth benar. Mungkin perlu latihan berkali-kali lagi biar sempurna.

Pertunjukan Jabang Tetuko membangkitkan kenangan kala kami sekeluarga nonton Opera Anoman di TMII, atau menonton wayang orang di GKJ hingga larut malam. Sebagai warisan budaya yang dapat dibanggakan, sepatutnya pertunjukan-pertunjukan semacam ini bisa lebih diperbanyak dan kita dukung.

Jadi, apakah saya menyesal menontonnya? Ah, tidak juga...

2 comments:

Ramot said...

gile yang nata musik ama laga orang holiwut semua +_+

idla said...

ah dan saya engga ikut nonton..