20.2.11

RM. Ayam Goreng Madukoro

Alkisah di suatu hari libur yang kejepit di tengah-tengah, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk bersilaturahmi pada famili. Yah seenggaknya biar kalo saya mencalonkan diri jadi suami baru Angelina Sondakh, yang juga anggota dewan, mereka mau pada nyoblos (gambar) saya.

Pulang dari silaturahmi, matahari senja nampak sudah mulai ceklok kartu absen dan beranjak ke peraduannya. Tiba-tiba dari sebelah saya, terdengar suara kebapakan (ya memang bapak saya), berkata,

"Yuk, makan malam di mana kita???".
GLEDER!!! Dan sontak geledek pun bergemuruh di angkasa.

Saya dan Nyai lautkidul, berpandangan takjub. Tapi demi mendengar suatu tawaran yang jarangnya seperti makan opor ayam di kala lebaran, kami langsung saja mengiyakan.

"Makan di Solaria Pondok Gede aja ya?" tawar bokap.
BRESS!! Kali ini hujan deras turun. Jarang banget bokap mau diajak makan di restoran macam itu. Adik saya langsung sujud syukur.

Karena posisi kami di kampung rambutan, maka rute yang digunakan adalah Kp Rambutan --> TMII --> Pd Gede. Saat sudah akan mencapai Taman Mini, tiba-tiba si bokap memutar mobilnya menuju arah bambu apus. Hobinya yang suka cari jalan-jalan aneh kumat. Kamipun cukup elus-elus dada pengemudi sebelah, bersabar.

Keluar di Lubang Buaya, mulai terlihat antrian mobil menuju Pondok Gede. Kali ini macetnya bikin stress, karena cacing-cacing udah mulai bikin paduan suara di dalam sana. Saya pun melaporkan lalu lintas ini via twitter

@lewatmana Lubang Buaya menuju Pd Gede padat merayap mulai dari depan lubangnya...


Seketika saya ingat ada sebuah restoran yang dulu kerap kami singgahi saat melewati jalan ini. Saya menawarkan pada keluarga, yang langsung disetujui secara aklamasi.

Pada jaman dulu kala, saat saya masih seimut Baim, kami kerap kali mengunjungi TMII. Kebetulan dulu sanggar tari tradisional yang saya ikuti, kerap mengikuti pertunjukkan bulanan di salah satu anjungan. Nah, ketika pulang, kami kerap mampir ke sebuah restoran ayam goreng yang bernama RM. Madukoro.

Tidak berkunjung sekian lama, ternyata restoran ayam goreng itu masih berdiri tegak. Cuman kondisinya sangat sepi. Dan saya merasa restoran ini lebih kecil dari waktu saya ke sini terakhir kali. Tanpa saya sadari, sebenarnya tidak ada yang menyusut dari restorannya. Tapi karena badan saya saja yang membesar dua belas kali lipat.

Kami menuruni anak tangga yang berundak, membuka pintu besarnya, dan mulai menyibak sarang laba-laba yang menutupi pintu. Oke berlebihan. Kondisinya benar-benar tidak berubah. Meja-meja yang ada masih meja dari kayu jati yang kuat. Hanya kursinya saja yang terlihat mulai lapuk.

Tanpa berlama-lama kami memesan paket menu yang terdiri dari nasi satu ceting, ayam satu ekor, lalap, dan sayur asem. Untuk minum, kami memesan satu teh tawar, satu teh manis, satu es teh manis, dan satu es jeruk. Dari meja kami, kami bisa melihat kondisi dapur yang terdiri dari banyak pekerja. Cukup aneh rasanya, mengingat saat itu yang makan cuman kami berempat saja. Apa mereka gak kelebihan resource ya? Ah, mungkin mereka satu keluarga yang gemar bahu membahu dalam bekerja.



Rasanya? Ayam gorengnya tetap terjaga kelezatannya. Kalo kata bokap, itu ayam goreng bisa garing di luar tapi empuk banget di dalem. Kalo kata saya mah, itu ayam goreng kuraaaang. Digares sama empat orang yang kelaperan berat, ayam gorengnya tak bersisa hingga kepalanya dibedah juga. Untuk sambal disediakan 2 versi, matang dan mentah. Saya suka dengan yang matang, karena rasanya manis, kayak saya.

Yang minus menurut saya adalah sayur asemnya. Saya yang pada dasarnya gak demen-demen banget sama sayur asem, merasa bahwa sayur asem di rumah makan ini rasanya terlalu manis. Mungkin karena ini rumah makan Solo, jadi versi sayur asemnya pun agak-agak lebay manisnya.

Kesimpulannya, RM. Madukoro masih bisa membangkitkan nostalgia kami akan ayam goreng yang enak...

InfoRM. Madukoro
Jl. Raya Pondok Gede No 50

Total Kerusakan: Rp. 114.000 untuk 4 orang
Plus: Ayam Gorengnya endang jumendang
Minus: Sayur Asem kemanisan, Jalan depan RM yang sering macet
Categories:

5 komentar:

Adji Cynthia said...

akh.. pagi2 baca beginian jadi laper..

~kriuk kriuk..

vidyanita said...

ehm...beberapa kali dapet boks makan ayam madukoro, menurut gw ayamnya kekecilan, kaya ayam busung lapar...


trus yang enak paling krecek sayurnya...

edratna said...

Wahh layak di coba nih Momo...sayur asem kan enaknya manis...hehehe...dasar orang Jawa.

idla said...

alah Mo..
istilahmu nyerempet2 "Total Kerusakan"

suruh buka cabang di Ragunan Mo

qonita said...

klo di sby yg enak ayam tulang lunak malioboro :D

*slm kenal :p