16.9.10

Dear Mama

Mama, aku mau cerita..

Beberapa bulan yang lalu, di sebuah pesta perayaan ulang tahun teman, masing-masing dari undangan diharapkan memberikan testimoni untuk sang shahibul hajat. Saat giliranku, aku berkata bahwa aku iri dengan temanku itu. Berapa kali dia mendapatkan ujian dari Tuhan? Orang tuanya, dan calon istrinya pergi lebih dulu meninggalkannya menuju keharibaanNya. Aku sedih, karena aku tau keimananku sangatlah rendah. Justru yang datang padaku kenikmatan yang tak ada hentinya. Karir yang bagus, keinginan yang terpenuhi begitu cepat, dan hal-hal bahagia lain yang tak pernah aku sangka. Tentu, aku bersyukur, tapi dalam hati kecilku, aku khawatir ini adalah pembayaran langsung atas amal-amalku selama ini. Aku takut, di hari akhir nanti, Tuhan tak memasukkanku ke surga karena keadaan impas ini.

Mama, maafkan aku..

Aku gak tau akan berujung seperti ini. Kesibukan masing-masing dari kami, membuat kami kurang begitu peduli pada Mama. Aku pikir, sakit mama seperti sakit flu biasa saja. Sesuatu yang seharusnya bisa dilawan oleh antibodi tubuh. Aku pun benar-benar gak tau, kalau mama jadi malas makan dan minum obat. Hingga mama harus diopname di rumah sakit pun aku masih percaya bahwa sakit mama sama halnya dengan apa yang mama alami dua tahun sebelumnya. Seharusnya, dokter-dokter itu tak perlu sulit mengobatimu, karena mereka pasti punya rekaman medisnya.



Mama, ingatkah malam-malam itu??

Saat kau berteriak-teriak minta pulang? Saat kau kerap menangis dan mengatakan hal-hal yang sesungguhnya tak pernah terjadi? Saat kau berbicara dengan orang yang wujudnya tidak bisa kulihat? Bahkan cara bicaramu padaku yang berubah lain dari biasanya? Ingatkah mama, saat aku menangis keras di hadapanmu? Saat aku bersujud di kakimu?

Aku mengaku tak kuat lagi, mama. UjianNya terlalu berat untuk kujalani. Aku terlalu sombong pada Tuhan. Aku tak sanggup melihatmu menderita. Mendengar suara serak Bapak, tiap kali ku telepon, bahkan, melihat napas Pakde yang tersengal-sengal karena tak sanggup mendiamkan rajukanmu, membuat hatiku teriris.

Maafkan aku mama, kau menderita karenaku...

[1] picture's taken from blogdomeninomau.blogspot.com

1 comment:

Kunderemp said...

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Yang sabar yah, Bim..