23.4.09

My Sarinah


Ah, perempuan Marhaen! Ah, Sarinah! Pulang dari berkuli dipaberik atau kebun, berdagang dipekan jang kadang berpuluh km djauhnja itu, masih menunggu pada mereka lagi pekerdjaan menanak nasi, mentjutji pakaian, mentjari kaju bakar, memasak gulai. Sang suami habis kerdja merebahkan diri di balai-balai tunggu dipanggil makan. Bagi Sarinah zaman sekarang ini, hidup adalah berarti keluh-kesah terus menerus, gangguan fikiran terus menerus dari fadjar menjingsing sampai di tengah malam.
Kapankah matahari akan bersinar bagi sarinah itu?

- Sarinah oleh Soekarno


Perkenalkan Sarinah gw. Namanya Sumirah.

Waktu kecil, karena gw belum bisa melafalkan kata dengan sempurna, maka dia gw panggil dengan Mbak Iyah. Mbak Iyah direkrut nyokap jauh sebelum gw lahir. Mungkin juga sebelum nyokap menikah. Ketika itu sepertinya usianya masih belia. Mungkin juga bisa seusia dengan anak-anak di jermal sana. Dulu dia belum bisa baca tulis. Kemudian, nyokap gw berbaik hati mengajarinya membaca dan menulis. Samar-samar dalam bayangan gw tergambar saat dia dan pembantu-pembantu di komplek kami ikut program kejar paket A. Yang lucu adalah ritual yang dulu ia lakukan setiap pulang belanja di pasar. Ia akan mengambil buku registernya, dan akan mencatat apa yang sudah ia beli dan berapa harganya. Pada sore hari, ia akan mendiktekan register itu sementara gw atau nyokap akan menghitung jumlahnya dengan kalkulator. Buku register itu yang lucu, karena ada beberapa nama belanjaan yang ia tulis asal, seperti "Bawang Bombai" atau "Kobes".



Hidup di Ibukota yang banyak biaya, membuat kedua orang tua harus bekerja banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. Sepenuh hati nyokap menaruh kepercayaannya kepada mbak Iyah untuk merawat anak-anaknya. Alhamdulillahnya mbak Iyah, merupakan sosok yang penuh tanggung jawab. Suatu hari gw diceritakan bagaimana nyokap sedang pusing mencari kendaraaan untuk membawa gw ke dokter. Ketika ia sampai, di depan rumah sudah penuh orang dan mbak Iyah terduduk di teras menangis keras. Sementara gw kejang-kejang, setep dalam dekapannya. Duh, kalo denger cerita itu gw masih merinding. Alhamdulillah, meski gw hidup dalam asuhan seorang mbak Iyah, gw masih bisa memposisikan dimana bokap nyokap gw dan dimana mbak Iyah.

Mbak Iyah, adalah corong informasi keluarga. Karena semua gosip di komplek ia lahap dan kemudian di-"setor"-kan ke nyokap. Gw juga kadang mencuri dengar. Hahahaha. Suatu hari, bokap nyokap gw pulang dari bepergian. Tiba-tiba dia memberi laporan kalau Anwar Sadat mati tertembak. Wadoow.. Bokap nyokap gw sampe kaget, si mbak bisa tau. Habis hobby dia emang denger berita. Adik gw kemudian memberi tanda, bahwa berita yang mengandung tag "RSCM", "tewas", "mayat" merupakan berita yang bisa membuat mbak gw bangun dari tidurnya.



Kelihaian mbak iyah adalah memasak. Masakannya enak pool. Contohnya adalah lemper, arem-arem, atau gorengan yang biasanya gw kasih ke temen-temen. Keenakan ini bukan sekedar diakui keluarga, juga tetangga dan saudara. Akibatnya dia sering dapet proyek untuk buat makanan. Bagi kami tidak masalah, karena kami pasti juga dapat beberapa potong. Proyeknya juga ga mengganggu pekerjaannya koq. Yang lucu, dia ngamuk waktu gw mau coba pasarkan keahliannya ini di internet. Padahal uangnya juga buat dia. Akhir-akhir ini gw sekeluarga ingin memfokuskan diri ke kegiatan memasaknya, sementara pekerjaan lain akan diserahkan ke orang lain. Tapi, sepertinya dia masih mikir-mikir dulu.



Mbak iyah, juga paling sebel kalo kita manggil dia "pembantu". Makanya dia sebel banget sama mantan supir jemputan bokap gw, karena si supir manggil dia "bibik" hihihihihi.. Selain itu hingga umur paruh bayanya ini dia juga belum memikah. Entah, apakah dia memilih untuk tidak menikah. Gw khawatir anggapan orang luar bahwa keluarga kami terlalu membatasinya untuk mencari teman. Padahal ya tidak. Segala pilihan hidupnya ada di tangannya dan bukan di tangan kami.

Kadang gw benci dia, kadang gw sayang dia, kadang kalo dia lagi makan gw recokin, kadang kalo lagi cerewet gw marahin. Kadang kalo kita ga pulang kampung, dia ikut ga pulang kampung. Kadang kalo kita lagi BU, dia yang pertama datang ngasih pinjeman :P Terima kasih mbak, sudah menggambarkan sosok Kartini dalam hidup saya. You're my second mom. You're my Sarinah.

4 comments:

edel said...

great post mo :D

Kunderemp said...

Traktir beliau dong, Mo.. :P

Ramot said...

*terharu*

adhidaz said...

mmuah mmuah deh mo buat mba loe bisa kuat merawat loe dan mengasup lemper2 nan delicious itu ke kita2 penyatron rumah loe :D:D