16.6.08

LML - lepas masa lajang

(mari kita menyanyi ala Ariel Peterpan)
Aku lihat berita
Tentang si dinna o..livia..
Melepas lajangnya
Dengan sang duda

Kau hancurkan hatiku hancurkan lagi..


Lagi. Sepupu gw yang lainnya menikah. Segenap sanak kerabat sudah bersiap datang dari berbagai penjuru. Kali ini gw ga mau ngomongin soal teror yang kerap kali didapati oleh manusia malang seperti gw (hehehe), cuman semakin kesini gw semakin tertarik aja sama persiapan menjelang pernikahan. Mungkin karena beberapa orang dekat gw lagi pada ribet ngurusin pernikahannya, jadi mau ga mau yah jadi ngeh juga.

Bukan pamer, tapi sepupu gw menghabiskan dana tidak kurang dari 9 digit untuk biaya pernikahannya. Alamakjaaaan. Apakah menggelar pernikahan sekarang sudah semahal itu?? Okelah mungkin bisa dimurahkan dengan hanya mengundang penghulu dan walimah yang sesimpel mungkin. Masalahnya, keluarga ini sangat menjunjung tinggi adat istiadat, sehingga prosesinya menghabiskan waktu (dan dana :D) yang banyak. Apa mungkin kena imbas BBM naek, jadi harga juga membumbung?

Cara mengurangi bujet dengan mengurangi jumlah undangan yang dicetak, mungkin sudah diupayakan oleh beberapa orang, wabil khusus anak yang melek Internet, dengan menempatkan undangan pernikahan di blog atau website. Eh tapi tunggu dulu, bukannya dengan cara ini kita, sebagai pihak pengundang, akan mengalami kesulitan untuk menghitung jumlah undangan yang datang - yang akan dicocokkan dengan jumlah porsi makanan yang harus disiapkan? Err... Bukannya pelit loh.. hehehe tapi kan kalo kurang juga ga enak.. :D

Faktor yang juga menambah bujet adalah intervensi dari orang-orang terdekat soal undangan. Ini kejadian sama tante gw. Karena dia sering bolak-balik ke rumah gw, jadi tetangga gw banyak juga yang diundang. Belum lagi, dia kenal dengan temen-temen yayasan bude gw, jadi diundang juga. Ibarat kata, elo gw kenal ya yukk gw kasih undangan. Gimana ga membludak? Mungkin ini karena penyelenggaraan pernikahan pertamanya kali yha.. Hmmm kalo gw nanti ngawinin anak gw, gw akan menjaga telinga dan hati gw untuk tidak tergoda pada bisikan-bisikan kanan kiri :P

Yang terakhir ni adalah faktor jenis kelamin. Sebagian besar (gw ga bilang semuanya loh) dari adat pernikahan di Indonesia menunjukkan bahwa segala bentuk kesibukan itu dilakukan oleh keluarga mempelai wanita. Sedangkan keluarga mempelai pria kebanyakan duduk manis mengikuti perintah, yah paling bantu-bantu dana lah.. :D Hidup batangan! Wekekekek.. Cuman gw jadi bingung masalah undangan ni? Sebagai pihak mempelai pria- sebagai pihak pasif-, apakah kita dapat menentukan jumlah undangan dari pihak kita yang kita undang, atau kita cuman terima jatah kuota undangan?? Hmmmm.....

Hahahahaha Setelah baca tulisan ini, kesannya gw pelit banget :P. Kadang kita berpikir, kalau sebenernya yang lebih penting adalah kesiapan hatinya dan kesiapan di masa depannya. Tapi pernikahan ini kan bukan cuman penyatuan dua manusia saja, ada penyatuan dua keluarga. Jadi ada unsur kepentingan keluarga di sana..

Oh.. repotnya..

2 comments:

cardepus said...

Bimo...kapan menggelar hajatan? Jangan tunggu anak elo deh Bim, elo dulu.

Duh...selingkuhanku....kasih tahu aye yah siapakah calonnya.

Eh..cerita undangan nikah...kenapa yah yg nikah itu kan si anak, mempelai laki dan perempuan, tapi kok yg banyak diundang itu temen2 relasi si orang tua...malah temen2 si mempelai sendiri kadang2 cuman seuprit. Coba tuh emak2 and babeh2 kaga undang banyak2, kan ga membludak. Lagi pula, si mempelai juga belum tentu kenal ini om tante dari mana sih.

Ok selingkuhanku....ntar kalau kita nikah, diam2 saja yah :P

herry said...

oh kasihaaaan, patah hati deh, gak apa2 asal gak patah semangat. Perempuan ma berlimmpah bim, masih banyak janda2 tua yg menunggu uluran cintamu....hehe.

talking2 ttg pernikahan, memang betul gak cuman menyatukan 2 insan tp jg 2 keluarga, jd ya gak boleh gak repot, kebahagiaan kita jg harus dishare ke mereka (makanya kita undang mereka ke pernikahan), begitu jg dengan beban yang ada (makanya ada sumbangan dr para tamu).

mmg betul dlm menghela hajatan pernikahan posisi keluarga mempelai wanita sedikit lbh berat krn hrs menyiapkan berbagai acara (mulai dr walimahan, resepsian dan acara2 lain selama masa persiapan). Namun dr keluarga laki jg tdk klh repot, mrk jg hrs nyiapin mas kawin, ngadain smcm acara resepsian dan ngundang banyak orang juga.

Yah, sebuah acara pernikahan saja klo dipikir2 cukup ribet, gak sederhana. Aku pernah kepikiran klo nikahan nantii cuma acara ijab qobul aja trus dana yg tersisa, yg sehrsnya dipake utk acara berbau pesta, aku sumbangin aja ke anak2 yatim piatu. begitu aku sampaikan ide itu ke ibuku, langsung aja ditolak mentah2.

Intinya kita hidup di dunia ini tidak sendirian, harus ada pengakuan dan penghormatan dalam hidup ini. Mungkin dgn mengundang mereka adl bentuk pengakuan akan keberadaan kita di masyarakat, dan mungkin jg bentuk penghormatan kita kpd meraka.

by the way, trims ya bim atas waktunya sabtu kemarin, bakwannya enak lho.