30.10.07

Ganjaran

Udah denger lagunya Maliq yang judulnya Beri Cinta Waktu? Bah, denger deh. Kenapa gw berasa si Angga nyanyinya dalem banget yha?

Sebagai orang yang mengimani keberadaan Tuhan dengan segala perangkat yang dimilikiNya, tentunya percaya juga bahwa kehidupan ini bukanlah sekedar tanah kosong tanpa peraturan. Ada ketentuan-ketentuan yang harus diikuti, yang berlanjut kepada sebuah hitungan matematis - walau hitungannya tidak sesederhana itu - antara jumlah kebaikan dan keburukan alias dosa.

Sejak Adam lahir ke dunia, iblis sudah membulatkan tekadnya untuk menggoda anak cucunya agar kami - para anak cucu - ikut dalam golongan mereka, mencicipi panasnya bara api neraka. Gelombang keimanan seseorang yang membentuk amplitudo positif dan negatif menunjukkan beberapa dahsyatnya kami mencoba bertahan dari godaan iblis dan anak buahnya - kadang terjelma pada saudara sendiri -. Suatu saat keimanan kami sangat baik, tapi ga jarang juga kami kalah dan amplitudo keimanan tergambar pada axis negatif.

Pernahkah berpikir, jika kami sudah kuat bertahan dari ketentuan yang berlaku, apakah ganjaran yang akan kami terima di hari nanti? Kebaikan? Tentu sudah pasti. Yang jadi pertanyaan, apakah semua hal yang kami coba tahan di dunia akan dihalalkan di akhirat, ataukah hal itu tak akan terjadi karena proses pengendalian yang selama ini kami jalani menurunkan keinginan itu hingga lambat laun akan memudar?

Contoh kasus, seseorang ketagihan dengan minuman keras. Ia pernah jatuh dalam godaan syaitan dan mencoba kembali ke jalan yang benar. Sepanjang hayatnya, ia berusaha tidak meminum air memabukkan itu barang seteguk pun. Berharap, semua yang ia lakukan, hasrat membara dalam dada yang ia coba padamkan, akan mendapatkan sebuah balasan yang setimpal.

Apa balasannya? Apakah di syurga nanti ia boleh meminum air sungai khammar? Ataukah semua keinginan itu akan musnah karena proses menahan diri yang sangat lama?

Kasus ekstrimnya, seorang laki-laki mengharapkan cinta seorang wanita yang telah dimiliki oleh orang lain. Cinta tak cukup melawan ketentuan sang Maha Mencinta. Tak mungkin lah seorang wanita berpoliandri??? Pengendalian diri melawan hasrat cintanya dan kerelaannya menumbuhkan keinginan agar dapat bersama dan abadi di akhirat nanti. Mungkinkah itu terwujud? Atau tidak mungkin, karena cinta itu pasti akan hilang karena kerelaan yang teramat besar?

Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui.

Bila kah kau tahu
Ketika kau jauh menangis hatiku
Setiap ku memanggil namamu tiada lagi hadir untukku

No comments: