24.3.05

Dia bisa, kenapa kita nggak??

Sebut saja A, memiliki kakak yang cukup beruntung. Dia memiliki usaha yang cukup pesat. Dan sebagai adiknya, A pun ikut kecipratan untung. Dia dihadiahi satu mobil yang mewah.

Suatu hari, lewat seorang gelandangan di depan rumah A dan melihat mobil itu. Dia menatapnya dengan penuh kekaguman..

"Hai.. nak" sapa A
Anak itu melihat pada A dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?"
"Ya," jawab A singkat.
"Berapa harganya Tuan?"
"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".
"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?"
Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.
"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,
"Seandainya.... seandainya...."

A mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu.

"Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku."

Ternyata A salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya:
"Seandainya... seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu....."

Dengan masih terheran-heran A mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.

Sampai satu kali anak itu berkata,
"Tuan bersediakah mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini".

Sekali lagi A mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.

"Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah." pikir A.

"OK, mengapa tidak", kata A sambil menuju arah rumah anak itu. Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak,

"Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali".

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot.

Setelah menunggu hampir sepuluh menit, A mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu.

Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.

Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya:
"Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat A tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya. Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.

INTINYA..
Kalo si gelandangan itu bisa memberi dengan tulus dan tanpa pamrih kepada seseorang yang sangat disayanginya. Kenapa kita tidak??

No comments: