8.10.16

Rindu Menulis

Udah lama banget ga menulis.
Rasanya anent..

14.2.16

LG BT

"Trrt... Trrt"
"Halo??"
"Assalamu 'alaikum,"
"Wa'alaikum salam,"
"Dimana kamu?"
"Di kos,"
"Sama siapa?"
"Sendiri,"
"....."
"Kenapa sih mah?"
"....."
"Halo?? Mah??"
"Teman kamu mana?"
"Teman?"
"Iya, teman kamu,"
"Yang mana? Teman Rio kan banyak, maah"
"Siapa itu namanya?"
"Yang mana, maah? Yang sering nginep di rumah?"
"Sering nginep di rumah?? Duh Gustiiii... Iya itu,"
"Milo bilang sih mau bimbingan dulu tadi,"
"Kok kamu tau?"
"Ya kalo ga tau, mana bisa aku jawab pertanyaan mamah?"
"Kok kamu ditanyain malah jawab gitu?"
"Ya abis, mamah juga nanyanya gitu. Ada apaan sih mah?"
"Udah berapa lama sama Milo?"
"Tiga setengah tahun,"
"Astaghfirullahaladziim,"
"Halo?"
"Tiga setengah tahun??? Ngapain aja kalian??"
"Ya kan, aku kenal Milo pas masuk..."
"Ngapain aja kalian?"
"Sekosan,"
"Sekamar?"
"Hmm... iya,"
"Rio!!!"
"Mamah!!"
"Kenapa kamu ga pernah cerita sekamar sama Milo?"
"Ya biar irit aja sih mah. Duitnya kan lumayan buat jajan,"
"Beresin barang kamu,"
"Emang ada apa sih mah?"
"Pulang kamu sekarang!!"
"Nggak,"
"Ngebantah kamu?"
"Ya mamah jelasin dulu dong ada apa?"
"..."
"Mamah tiba-tiba telepon, nanya-nanya soal Milo, terus tiba-tiba suruh aku pulang,"
"Nah itu harusnya kamu sudah sadar dong maksudnya apa?"
"Mah, aku kuliah di UI, bukan di Hogwarts. Mana bisa aku baca pikirannya mamah apa?"
"Mamah ga mau anak mamah jadi orang yang ga bener."
"Ga bener gimana? Ini Rio jungkir balik jadi sarjana kan demi jadi anak yang BENER,"
"Mamah ga mau kamu jadi gay!!!"
"Astaghfirullahaladziiim,"
"Itu Facebook kamu maksudnya apa? Mama merasa gagal mendidik kamu!!"
"Facebook??"
"..."
"Aaaaaaannjiiiing,"
"Rio!!! Durhaka kamu!!"
"Eh!! Wakakakak.. Mamaaaah!!"
"Rio!!"
"Itu pake spasi maaah LG spasi BT"
"Loh? Jadi??"
"Lagi Bete maksudnya,"
"Beneran?"
"Suer!!"
"Rio rio.. Kamu bikin mamah panik aja,"
"Yeeeh. Mamah juga bikin Rio naik pitam aja,"
"Jadi berani naik pitam sama orang tua?"
"Heheheheh,"
"Emang lagi bete kenapa kamu?"
"Lagi bete disangka gay sama ortunya sendiri,"
"Pulang kamu,"
"Bawa barang sekosan ga?"
"Terserah.."
"Halo?"
"Tuttt..... tutt... tuttt"

28.11.15

Boss (bisa juga) Patah Hati

Semoga orang kantor ga baca blog ini hehehe..

Saat tulisan ini dibuat, waktu menunjukkan pukul 00.22 WITA. Jam sepuluh malam tadi, saya baru mendaratkan pantat di sebuah guest house di Pulau Dewata. Usai ngobrol sama partner kerja malah ga bisa tidur. Tetiba reminder ponsel saya berbunyi, menginformasikan bahwa Wisnu, salah satu partner kerja di kantor, berulang tahun. Jadi yha sambil nungguin ganti hari di Jakarta sana, iseng lah mengisi blog yang kemarau dilanda El Nino ini.

Omong-omong soal Wisnu, saya ingat sekali kami bertemu Oktober 2013. 5 bulan setelah saya masuk ke bagian operasional. Jadi bisa dibilang kami sama-sama junior lah. Hanya karena pengalaman bekerja saya di kantor itu lebih lama (baca: tua), maka saat boss kami pergi meninggalkan kami keluar negeri, terpaksa saya menggantikannya. Sejak saat itu, posisi kami jadi boss dan anak buah. Walaupun saya sih lebih senang memanggil mereka partner kerja. Ya ga papalah, punya partner kerja dulu, baru partner hidup (skip...).

Wisnu seolah olah menjadi berlian dalam sekam. Maksudnya di tengah pekerjaan kami yang ibarat neraka dunia, dia bisa muncul dengan membawa ide ide segar dan brilian. Kerjanya cepat, dan bisa berkolaborasi dengan baik. Setiap pemikiran kami, bisa langsung dieksekusi dengan cepat. Atau entah mungkin karena dia sungkan kali ya karena saya bossnya hehehe.

Suatu malam, saat pulang dari kantor pusat menuju kantor kami di Ragunan, kami berbicara santai, sedikit mengumpat umpat bagaimana peliknya pekerjaan kami di kantor. Dia pun bercerita bahwa dia sebenarnya lebih ingin ke pengembang. Dia sudah berbicara dengan Wakil Kepala Divisi Pengembangan, cuman memang belum ada tindak lanjutnya. Saya sendiri juga konon akan dipindahkan dengan segera ke bagian lainnya. Pembicaraan di mobil itu, kami hembuskan ke awang awang, tanpa ada yang pernah menyangka bahwa Tuhan menangkap dan mengamini...




... salah satunya...




Beberapa bulan kemudian, saya mendapatkan informasi dari Badan Intelijen Kantor. Biasanya kalau ada orang yang di rotasi, Badan Intelijen Kantor ini yang punya info paling sahih mendekati fakta. Kabar yang beredar Wisnu akan dipindah ke pengembang. Saya sedikit kecewa, karena sebagai atasannya, sebagai orang yang sering berinteraksi dengan dia, saya tidak diberikan kesempatan untuk memberikan jawaban, apakah saya butuh Wisnu atau tidak. Ditanya pun tidak. Dengan pasti saya yakini Wakil Kepala Divisi Pengembangan yang menariknya untuk jadi anak buahnya.

Tak berapa lama, saya ajak Wisnu untuk berdiskusi. Saya ceritakan masalahnya, dan saya memiliki rencana untuk mengirim surat permohonan pembatalan ke manajemen terkait hal ini. "Kalau di bagian *** ijinkan saya mas, siapa tau saya bisa berkontribusi lebih baik lagi," jawabnya. Saya diam dengan rahang mengeras.

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast


Seminggu lalu, surat penetapannya keluar. Surat permohonan pembatalan itu tak pernah saya kirimkan. Saya gumamkan lagu Lapang Dadanya Sheila on Seven berkali kali. Mungkin jika saya jadi Wisnu, saya juga ingin begini. Saya relakan Wisnu pergi.

Selamat Ulang Tahun om Wisnu.
Semoga Sukses dan Bahagia Selalu.
Tahun Depan Akan Ada Di Bagian Baru.
Semoga Bisa Makin Maju.


Dari partner kerjamu... ^^



















Yang patah hati.. :))

 

11.7.15

Pledoi si Tambun No 23

Sebelas kali dentangan jam menyambut saya masuk ke dalam. Selebihnya senyap. Sesekali terdengar orang berbincang di warung kopi di depan rumah. Saya pun menghempaskan tubuh di atas sofa tak bersuara. Badan saya lelah bekerja seharian, mata pun sudah tak semangat untuk terbuka. Kombinasi antara capek dan kenyang setelah berbuka puasa membuat mata ini dan kelopaknya bagai kutub magnit yang saling tarik menarik. Cukup lama saya terdiam, untuk kemudian mengais-ngais energi mencoba berdiri. Mobil saya masih ada di luar dan harus dimasukkan ke dalam garasi...

Kali ini saya berhenti di meja makan. Dokumen kantor yang saya bawa diletakkan di atasnya. Tas yang saya panggul saya sampirkan pada kursinya. Saya kembali diam, sesekali berpikir apa saja yang saya akan saya kerjakan besok. Sejenak kemudian, dengan satu mata saya melirik ke atas meja. Dan di sana, di tengah meja, terdapat sebuah benda yang  harus saya genggam, angkat, dan buka. Seraya menahan napas, saya melakukan ritual terakhir yang selalu saya lakukan sebelum masuk ke dalam kamar.


Bismillah..



Dan di sana terhidang sepiring Nasi Goreng...

"Duh Gusti," ucap saya. Bersamaan dengan itu ada roll film yang seolah berputar di otak saya. Dalam film itu mbak Iyah sengaja meletakkan piring itu untuk saya. Walau berulang kali saya minta padanya tak usah menyiapkan makan malam, tapi dengan pintarnya ia mengusik kelemahan saya. Ia tahu betul saya bertekuk lutut pada nasi goreng. Saya pun tahu betul, itu memang buat saya. Jika makanan itu untuk Woro, adik saya, pasti sudah disantapnya. Masakan mbak Iyah memang benar-benar mematikan. 


Mungkin dalam tidurnya, Mbak Iyah tertawa puas.. 

Saya menarik piring nasi berwarna kecokelatan itu takut-takut. Saya amati konturnya, mengamati kuning telur yang keemasan dan daging sosis yang merah muda. Sempurna. Sesuap saya masukkan ke dalam mulut. Sesuap lagi. Lagi. Hingga saya sudah tak sadar diri. Bibir dan lidah saya mencumbu memburu. Saya dan nasi goreng bercinta malam itu.


Karena itu lah, selalu ada alasan untuk megapa tubuh ini begini.... 

[1] Gambar tudung saji diambil dari http://etnikita.blogspot.com/
   





4.4.15

Lapang Dada

Taukah lagu yang kau suka?
Taukah bintang yang kau sapa?
Taukah rumah yang kau tuju?


Aku tau lagu favoritmu.
Yang sering kuhinggapi di kupingmu.
Seiring kuncir ekor kudamu yang menari
Mengikuti anggukan musik yang ketukannya kuhapali.

Di antara aroma teh yang kita sesap,
Kau sering kali bercerita
Bagaimana kau selalu berharap,
Memiliki rumah berteras tingkat dua
Supaya kau bisa menyapa seluruh bintang yang jatuh
Seraya berdoa mimpi dan anganmu dia sentuh.

Aku akan mengejar bintang-bintangmu
Dan memaksanya tunduk dihadapanmu

Saat kita berkeliling pasar mencari gambar,
Dan kau bertanya apa ku punya ambisi
Ingin ku katakan, gambaran masa depan kita berdua yang abadi.

Cincin yang kuberikan hari itu tidak bernilai
Dibanding pelukan darimu yang membuatku limbung
Dan sebuket bunga dari atas altar yang kutangkap dengan lihai
Kuterima dengan iringan senandung,

Taukah lagu yang kau suka?
Taukah bintang yang kau sapa?
Taukah rumah yang kau tuju?


Harusnya, itu aku....


[Catatan Penulis: CERITANYA FIKSI. LAGI SUKA BANGET LAGU DAN VIDEO KLIP S07 YANG INI]



7.3.15

Yang Nyebelin Ketika Lagi Gosipin Gaji..

Alkisah, di whatsapp kantor lagi asyik ngomongin gosip. Kali ini gosipnya tentang gaji. Jadi amanlah, ga termasuk ke dalam ghibah, hehehe. Konon kabarnya jumlah pengali gaji dalam setahun akan diturunkan. Alasannya sih yang menurut saya agak gak masuk akal. Karena perusahaan tetangga yang masih dalam asuhan yang sama gak bisa ngasih pengali gaji sebanyak perusahaan saya. Hih!

Di tengah serunya membanding-bandingkan gaji. Salah seorang sahabat saya, sebut saja Ruwi, tiba-tiba nyeletuk.

Urun rembug manteman... katanya sih, janganlah mengkhawatirkan rejeki.. karena Tuhan sudah memastikan tempatnya.. Tapi khawatirkanlah amal perbuatan, karena Tuhan tidak memberi kepastian surga. CMIIW.


Ck! Batal deh nanti malam download bokep...


The example of good companion and bad companion is like the seller of the musk and the blacksmith. As for the seller of the musk, either he will give some to you, or you will try and buy it from him, or its scent will rub off on you. As for the blacksmith, either your clothes will be burned, or his rancid odour will rub off on you. [Bukhari:5534]

25.12.14

Surat Terbuka untuk Pak Sofyan Basir



Salam hormat untuk Pak Sofyan.

Mungkin Bapak tidak mengenal saya. Bukan mungkin lagi, pasti sih. Beberapa orang bilang perawakan kita bagai pinang dibelah dua. Walau gaji saya dan bapak bedanya bagai orang panjat pinang, punya Bapak jauh di atas sana. Kita hanya berjumpa beberapa kali, saat upacara dan family day. Jika kita ada di ruang yang sama pun, saya tidak mampu berbuat banyak. Wajah saya pucat, dengkul saya lemas, jantung saya berdegup kencang, pantat saya terasa gatal (ini grogi atau kremian sih?). Oleh karena itu, surat rasanya lebih pas untuk mengungkapkan isi hati saya.

Pak Sofyan yang saya hormati,

Beberapa hari ini nama Bapak bertengger di situs berita online. Membacanya bagai terkena petir di siang bolong. Baru Minggu kemarin, Bapak bilang tidak dapat memimpin perusahaan lagi karena ketentuan. Beberapa hari kemudian ternyata Bapak sudah pindah ke kapal lain. Bahkan belum one month notice. Perih, Pak. Rasanya pengin ngajak RAN karaoke, "Tiadaa kusangkaaaa... Begitu sajaaa.."

Pak Sofyan ijinkan saya bercerita. Beberapa minggu lalu, saya menggantikan jabatan bos saya. Sementara sih, tapi rasa-rasanyaTM ingin melambaikan tangan ke kamera aja. Gak kuat, Pak. Sepanjang hari gelisah, deg-degan, dan bikin susah tidur. Saya coba merenung, mungkin berbeda dengan yang lain, saya gak pernah berambisi untuk meraih jabatan tertentu. Bagi saya, gak papa hanya sebatas staff, yang penting apa yang saya lakukan bisa berguna untuk orang lain. Seperti prinsip hidup saya yang saya pegang selama ini.

Sembari membaca berita tentang Bapak, saya bergumam. Jika saya menjadi Bapak, saya akan pensiun dengan gaji plus deposito yang saya miliki sekarang. Pindah ke kota yang sunyi dan romantis-romantisan dengan Bu Sofyan. Akan tetapi sejurus kemudian saya mulai memahami. Bahwa semakin tinggi jabatan kita, tentu saja pengaruh ke orang lain akan semakin besar juga. Jadi jika saat jadi staff, pekerjaan kita berguna untuk orang se RT. Menjadi pimpinan, akan membuat pekerjaan kita akan berguna untuk orang se kecamatan. Itu analoginya. Makanya saya angkat topi sama Bapak, karena masih mau mengerahkan tenaga dan pikiran di sisa hidup ini untuk kepentingan khalayak banyak. Apalagi pindah dari Bank ke Perusahaan Listrik bukan hal yang mudah. Saya aja yang pindah bagian masih sering mengeluh. Malu saya jika melihat semangat Bapak.

Pak Sofyan yang saya kagumi,

Mohon maaf ya Pak, nama Bapak saya catut dalam surat terbuka ini. Maklum Pak, akhir-akhir ini sedang ramai orang membuat surat terbuka. Rasa-rasanyaTM dimulai dari surat terbuka untuk eks ibu negara kita. Kemudian membuat surat terbuka jadi semacam trend atau hobi. Cuma saya sedih Pak, banyak yang isinya menggunakan kata-kata yang manis tapi menusuk. Nama ilmiahnya, "nyinyir". Membacanya seperti mencium aroma kebencian dan permusuhan. Saya jadi suudzon, surat-surat terbuka itu dibuat dengan tujuan supaya dapat banyak like dan share dari orang lain, dan pada akhirnya, kok malah terlihat jadi seperti adu nyinyir terbaik?? Semoga saja prasangka buruk saya salah. Oleh karena itu, surat terbuka yang saya buat ke Bapak, saya buat dengan maksud untuk mencoba menampilkan sudut pandang yang lain. Bagaimana surat terbuka bisa digunakan untuk menyatakan cinta, kasih sayang, dan kekaguman. Seperti kekaguman saya pada Bapak. Pak, naik gaji yah.. Heuheuheu.

Di akhir surat ini, saya berharap Bapak sukses di tempat yang baru. Semoga Bapak bisa selalu sehat dan senantiasa menginspirasi, baik untuk karyawan di perusahaan sana, maupun untuk kami yang ditinggalkan. Jika Bapak membutuhkan Kredit Multi Guna, Bapak tahu harus minta kepada siapa. Kami akan mencoba melayani Bapak setulus hati (pesan sponsor).

Hormat saya,

Bimo Widhi Nugroho
66504

[1] Foto diambil dari beritabuana.co




18.10.14

30 September

trrrt.... trrrtt...

"Halo!"
"Rob,"
"Sapa neh?"
"Aldi,"
"Eh, kenapa? Ada message1?"
"Lo dimana?"
"Di tujuh.."
"Ngapain? Sini aja, ke lantai lima. Rame,"
"Enggak ah. Enakan di sini,"
"Sini ajaa.. Ada makanan nih.."

Robi mendongakkan kepala, jarum pendek di dinding sudah setengah beranjak dari angka 12.

"Telat banget... Udah makan gw,"
"Ayo lagi lah. Biar kaga ngantuk," Aldi terus membujuk tapi nampaknya hal itu bagai menggarami lautan. Sia sia saja.
"Ya udah, ati-ati lho Rob. Konon, banyak cerita mistis di lantai tujuh,"

Robi terkekeh. Bel pulang yang tidak pernah berbunyi itu mungkin lebih mistis baginya.

"Emangnya lo ga tau ini malam apa?" Aldi terus mengganggunya.
"Malam akhir bulan, kan?"
"Bukan"
"Malam Rabu?" jawab Robi sambil melirik kalender mejanya.
"Salah"
"Hah?"
"Malam G 30 S PKI,"

"Kambing!!" Robi membanting ponselnya. Doktrin yang ditanamkan pemerintah orde baru bertahun tahun lalu otomatis menjejakkan ingatan buruk ketika ada yang menyebutkan G 30 S PKI. Film yang dulu ia tonton dengan terpaksa, membuatnya sempat tidak bisa tidur berhari-hari.

Robi mengusap-usap wajahnya. Kantuk mulai menyerangnya. Kegiatan ini memang menjemukan. Tugasnya hanya untuk standby menjaga sistem berjalan lancar pada saat akhir bulan. Ia melongok ke kopinya yang hanya menyisakan ampasnya saja. Robi pun berjalan menuju pantry.

"Sialan Aldi," Robi mengutuki Aldi yang kini membuat bulu romanya merinding. Jalan menuju pantry memang cukup gelap, sehingga membuat aura menjadi tidak enak. Entah disengaja atau tidak. Mungkin manajemen ingin melakukan efisiensi lampu. Hanya butuh dua menit bagi Robi untuk menyeduh kopi. Ia dan kopi seperti Romi dan Yuli, tak dapat dipisahkan. Roby merogoh kantung jaketnya. Ia ingin mengabadikan kopi buatannya dalam sebuah status di Path. Semua orang harus tahu, si calon karyawan teladan ini menghabiskan setiap akhir bulannya di kantor. Tapi sayang, HPnya tidak ada di sana.

"Ah, iya ketinggalan di meja," sadarnya.

Robi segera kembali ke mejanya. Ia menyeruput sedikit kopi. Hmm.. rasanya sungguh nikmat. Robi berpikir ia harus meminumnya sedikit demi sedikit, agar kopinya tak lekas habis. Enggan sekali ia untuk melewati pantry tadi. Robi meletakkan gelas kopi tersebut di alas gelas khusus kopinya yang terbuat dari floppy disk. Ditatanya dengan menarik, kemudian diraihnya HP yang sedari tadi tergeletak di mejanya.

Saat ia melihat HPnya gemetar badannya. Di dalamnya sudah terdapat pesan WhatsApp yang ia sendiri tidak pernah tahu kapan ia mengirimnya.



Sesaat kemudian lampu lantai 7 mendadak gelap total.

Robi berteriak kencang. Di sela-sela teriakannya, sayup-sayup terdengar suara wanita mengaji dari bilik mushola.

1. Message : Pesan dari host yang bagi sebagian orang lebih horor dari cerita horor di kantor.

--- End ---

tulisan ini murni fiksi yaa. untuk menebus kesalahan saya karena September ga ngeblog sama sekali #_#


3.8.14

Radit dan Julia

Suasana hingar bingar di TV. Dimana-mana orang berteriak. Mereka mengacungkan tangannya ke atas. Menandakan suatu kemenangan. Akan tetapi gegap gempita ini ditanggapi oleh Julia dengan dingin. Ia hanya memandang melalui sudut matanya, sementara bibirnya tak berhenti berkomat-kamit sembari menengadahkan kedua tangannya. Tak berapa lama, ponsel yang ia letakkan di samping sajadah berpendar. Julia menghela napas. Nama yang muncul sungguh tidak asing baginya. Ada beberapa saat ia hanya memutar-mutar benda kecil itu. Tapi akhirnya dia putuskan mengangkatnya juga.

"Halo,"
"Assalamu'alaikum," terdengar suara lelaki di ujung sana. Suara yang sering didengarnya hampir 3 bulan ini.
"Wa'alaikum salam," jawabnya.
"Selamat ya..," ucap sang lelaki.
"Selamat apaan?" tanya Julia pura-pura tak mengerti. Padahal ia tau betul, topik yang akan mereka bicarakan ini tentang apa.
"Iyaaa... Jadi putri Presiden sekarang," jawab lawan bicaranya.
"Yang jadi Presiden kan bapak. Harusnya yang kamu kasih selamat ya dia," protes Julia. Sesungguhnya dia enggan sekali meladeni percakapan lelaki  malam ini.
"Tapi kamu kan special,"
"Nasi goreng kali, special," jawab Julia ketus.
"Pasti perlakukannya berbeda, lah," lelaki itu menggodanya.
"Jadi gitu... Kamu maunya dikasih perlakuan berbeda, mas??" suara Julia meninggi.
"Yaa.. kalo aku, dari dulu perlakukan kamu berbeda, " lelaki itu makin menggodanya.

"Ish..." Julia mendengus dan menekan tombol merah. Seketika sambungan telepon itu pun terputus
 ..........

 ---""---

27.7.14

Asyiknya Mandiri E Money

Pernyataan Penulis: Sebelum mengunggah tulisan ini ke ranah daring -tssah-,saya sadar bahwa tindakan ini mungkin saja berimplikasi pada nilai kinerja saya di kantor. Hal ini karena kantor dimana saya bekerja bisa dikatakan sebagai kompetitor dari perusahaan yang produknya akan saya ceritakan ini. Dalam hati sanubari, tidak ada niatan politis. Anggaplah tulisan ini merupakan pendapat saya sebagai konsumen produk yang awalnya dikasih gratis. Lagipula, bukankah begini yang paling indah? Saling memuji dan mengakui keunggulan tetangga sebelah. Ke depannya semoga bisa diangkat jadi Business Analyst jadi pelecut semangat pribadi agar produk sendiri mampu menyamai, bahkan menyaingi.


Kenapa Pakai?

Saya bukan nasabah Mandiri, sehingga ketika pertama kali sahabat saya menunjukkan kartu E-Toll1, saya tidak tertarik. Pikir saya, pasti akan sangat repot mengisinya. Tak lama kemudian ketika sedang menahan sabar antri di gerbang tol. Seorang mas dengan baik hati memberikan kabar gembira kartu ini secara gratis, tentu saja dengan ekstraknya, eh isinya...

Setelah merasakan menggunakan E-Toll, saya menyadari bahwa produk ini sangat membantu saya sebagai jamaah Jakarta Outer Ring Road yang rutin "beribadah" setiap harinya. Kalau pagi-pagi udah jalan dengan mata setengah, tinggal tunjukkan kartu tersebut kemudian beres dah!: dengan catatan ada saldonya. Apalagi jika ada antrian panjang, kemudian ternyata di gerbang tersebut ada Gerbang Tol Otomatis (GTO), wuih.. kita bisa dengan jumawa melenggang via GTO sambil berkata "I feel free.." #tersyahrini  
  
Meskipun demikian, alasan saya enggan menggunakan E-Toll memang terbukti. Saya masih sulit mengisi ulang kartu tersebut. Walau info mengatakan bahwa dapat diisi di banyak merchant, tapi pada kenyataannya tidak semua merchant tersebut dapat melakukannya. Di dekat rumah saya, ada Indomaret dan Alfamart. Hanya di Indomaret-lah saya bisa mengisi E-Toll saya. Sementara Alfamart, "Ga ada alatnya, mas", kata si mbak-mbaknya. Saya sih memaklumi. Gak semua toko mau menerima uang cash begitu saja, seperti yang saya lakukan untuk mengisi E-Toll. Makin banyak uang cash yang mereka terima, semakin besar risikonya.

"Mbak mau isi E-Tollnya,"
"OK."
"Makasih mbak.", ketika si mbak menyerahkan kembali E-Toll saya.
"Gak mau beli minuman ringannya sekalian, mas?"
"Enggak mbak makasih,"
"Isi pulsanya?" si mbak masih keukeuh.
*menggeleng*
"Kalau isi hati aku yang kosong?"
*buru buru bayar dan menyembunyikan muka ala Teuku Rasya ini*

Ilustrasi di atas adalah alasan lain kalau kita isi ulang E-Toll di toko: ga enak kalau ga beli barang lain.

Asyiknya dimana?

Nah, alkisah saat ATM Bank saya sangat panjang antrian karena banyaknya nasabah 2, saya masuk ke ATM Mandiri untuk mengambil uang dengan kartu bank saya. Kemudian iseng iseng saya melihat fitur fitur lain yang ada. Ternyata eh ternyata ada fitur untuk membeli E-Money. Di ATM saya lihat tempat untuk menempelkan kartu E-Money kita.

Langsung saja saya coba. Ternyata bisa!! Bahagianya saya, ternyata saya sebagai orang yang bukan nasabah Mandiri bisa melakukan isi ulang secara self service via ATMnya. Ada bank yang menerapkan kebijakan hanya dapat menggunakan ATM kartu bank tersebut untuk mengisi produk e-moneynya, yang membuat orang-orang bukan nasabah kerepotan. Berbeda dengan Mandiri, kesulitan saya untuk melakukan isi ulang tentu kini bukan masalah.

Bravo Mandiri. Semoga bank saya bisa meniru yah... :D 

1. Salah satu merek E-Money untuk Tol Jabodetabek yang secara kurang-ajar luar biasa dikontrak eksklusif oleh Mandiri. Kabarnya selama 20 tahun!!!
2. Baca: transaksi gagal :))