Random


Pada gemericik hujan yang berderap di pukul satu. Maunya itu beku. Karena di sela tetesan beningnya, ia ingin titipkan rasa.

Tetesan kecil membesar dan mencair. Saat menjumpai gadis yang menikmati angin bersemilir, ia pun tersihir. Lupa sudah tugasnya sebagai kurir.

"Hai nona dengan kesabaran baja. Buat apa kau menanti si tuan gila kerja? Lebih baik kau ikut aku saja. Mengarungi dunia bagai ratu dan raja,"

"Duhai air nan penuh gairah. Segala pikiranmu salah. Tidak kucintai tuan begitu sangat. Hanya dalam kesetiaan kucapai puncak nikmat,"

"Pergilah kau, aku tak mengapa. Biarkan aku menunggunya entah sampai senja keberapa,"

dikutip dari @bimown. 17 Feb 20011.



1. Gambar diambil dari quirkymon.blogspot.com

By MoMo with No comments

Tuhan, ia datang lagi

Tuhan, aku menghadap padaMu bukan hanya di saat-saat aku cinta padaMu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang diriMu - Wahib

Tuhan, ia datang lagi
Kali ini tertawa di balik selimut putih
Kadang juga menatap melalui spion kemudi

Ia memiliki segudang kelebihan
Berbicara mengundang perhatian
Dan aku sang lemah iman
Terjerembab dalam kehampaan

Bersamanya aku merasa rendah diri
Meski seharusnya hanya padaMu lah ku merasa seperti teri
Kadang ingin aku teriak agar Kau puasi hati
Supaya setidaknya aku bisa mensyukuri

Padanya yang membuat pikiranku gemuruh dan napas menderu
Tuhanku, aku cemburu



[1] Photo's taken from chud.com

By MoMo with No comments

Berpikir Positif


Sebuah peristiwa baik, sesingkat apapun, mungkin sebaiknya dicatat. Selain (semoga) dapat menginspirasi orang lain, juga bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri di kemudian hari.

Ceritanya klise. Saya punya rekan kantor, namanya Bayu. Kami kebetulan bersama memegang sebuah aplikasi "limpahan". Aplikasi itu tadinya menjadi tanggung jawab rekan kami yang lain, kemudian karena rekan tersebut pindah, aplikasi itu dialih tugaskan kepada orang lain, ya kami.

Beberapa hari lalu, kami mencoba mengakses aplikasi ini. Akan tetapi, kami tidak tahu bagaimana caranya kami mengaksesnya tanpa harus menggunakan aplikasi yang sudah terpasang di user. Saya pun membuka server database, berharapkan menemukan aplikasinya di sana.

Ternyata ada sebuah aplikasi di sana, tapi ketika kami coba ternyata aplikasi itu bukan yang kami maksud. Maka percakapan selanjutnya adalah seperti ini:


(Bimo)
Yaaah Bay, ternyata ini "monitor" bukan "viewer". Sia-sia deh..

(Bayu)
Ga papa mas, kan jadi nanti kalo ketemu user, udah tau bahwa aplikasi "monitor" ini ga bisa dipake buat cari message.

(Bimo)
Degg!! Aaaa Bayu!! Kamu berpikir positif sekaliiiii



Terima kasih ya Bayu, sudah memberikan inspirasi.. :D

I haven't failed, I've found 10,000 ways that don't work - Thomas Alfa Edison


1. photo's taken from : inspirative-blog.blogspot.com

By MoMo with 3 comments

Notes dari Disket 5.25

Sebelumnya owner mau ngucapin met tahun baru China. Semoga rejeki mengalir deras kayak air, asal mulut gak bau aja macam naga.

Liburan Xincia kemaren jadi libur panjang yang cukup garing. Pacar gak punya, duit ga punya. Yang bikin lebih merana lagi, AKU GA PUNYA PULSAAAA™. Jadi malem Minggu bikin saya manyun aja sendirian di rumah.

Kalo si Ernest kekunci di container nanya-nanya ide kreatif dari followernya, nah saya gak mau kalah untuk membangkitkan ide-ide kreatif dari dalam alam kubur isi kepala. Ubek-ubek isi perpustakaan, saya temukan, tarrraa... floppy disk 5.25".

Dengan semangat go green yang membara dan kebetulan ada sahabat yang berulang tahub, saya iseng mencoba membuat lagi notes dari dua lembar benda persegi ini. Cekidot gan!

Bahan:

  1. 2 lembar floppy disk ukuran 5.25". Supaya menarik pilih warna yang catchy seperti putih muda atau hitam tua.
  2. 2 buah ring. Bisa dibeli di toko buku. Saya sih mergokin nih barang di gramedia. Terus saya ciduk aja.
  3. Pembolong kertas yang bolongnya cuman 2 itu lho.
  4. Kertas bekas terpakai satu sisi. Harus bekas, kalo enggak mengurangi semangat recyclenya.
  5. Penggaris, pinsil, dan pemotong kertas/gunting.
  6. Baju dan celana. Takut lagi asik-asil buat, pak erte dateng. Kalo ngeliat saya tanpa sehelai benang, dikira kuda nil lepas dong.

Pembuatannya:
  1. Kertas bekas dipotong dengan ukuran 13 cm x 13 cm.
  2. Bolongkan kertas tepat di tengah menggunakan pembolong. Begitu pula dengan disketnya.
  3. Satukan mereka semua dengan 2 buah ring tersebut. Jadikan disket sebagai cover depan dan belakang dari notes kita.
  4. Lebih kreatif lagi, gunakan kertas yang lebih tebal dan print quote-quote motivasi di atasnya. Kemudian, jadikan sebagai pembatas antara halaman.


Voila! Siapa yang bilang susah? Hah? Hah? Dengan demikian kertas yang sudah terpakai itu masih bisa terpakai sekali lagi sebelum membuangnya.


Save our money, save the world!

ps: yang mau disket macam ini, bisa hubungin saya. banyak tuh di rumah ^^

By MoMo with 3 comments

Sewindu Berkata

Pagi ini saat terbangun dari tidur, saya mendapati dua email notifikasi dari blog ini masuk ke ponsel. Saya memang mengatur agar komentar baru akan langsung dinotifikasi. Komentarnya sih ga penting, bahkan cenderung spam, tapi yang menarik adalah...

Ini artikel kapan? Emang gw pernah nulis??

Selidik punya selidik, setelah mata bebas dari belek, ternyata yang dikomentarin adalah artikel yang saya tulis di tahun 2005. 3 tahun yang lalu, saat tampang saya masih unyu-unyunya. Saya pun penasaran, apa sih yang saya tulis?? Usai membacanya.....

Wuanjreet, ini nih tulisan gw? Alay banget!!!

Jadi sadar, blog ini sudah menemani saya selama sewindu. Memulai buat blog dari tutorialnya bang Enda, hingga ikut dalam hingar bingar blogger, lantas masih bertahan kala yang lain hijrah ke twitter. Gaya penulisan pun terlihat berubah, mulai dari yang aneh, unyuu, galau maksimal, hingga penuh kebajingan kebajikan.

Untuk semua rasa, gairah maupun gelisah. Untuk 500-an post yang bisa tertumpah. Terima kasih, blog, sudah mau menjadi telinga.





Dari manusia yang sewindu gemar berkata, sewindu bercerita.

By MoMo with 3 comments

2012

Artikel ini tadinya saya rencanakan untuk diketik pada tengah malam tadi, di saat pergantian tahun. Tapi apa daya, perayaan pesta tahun baru di rumah membuat saya pingsan seketika seusai acara. Oleh karena itu, bangun dari tidur saya langsung menghadap laptop yang sejak semalam dinyalakan. Desingan petasan di depan rumah kini berganti pengajian dari masjid sebelah. Dan saya bersyukur, itu berarti pendengaran saya masih terselamatkan!!


2012 kini bukan lagi di depan mata, tapi kita berada di dalamnya. Pergantian tahun kali ini ada sedikit rasa yang berbeda. Sejujurnya ada rasa takut yang menyergap tubuh saya. Memang, semua ini rahasia Tuhan, tapi ada perasaan bahwa bumi saya ini memang sudah cukup tua. Dan entah karena filmnya yang terlalu hits, atau karena hal lainnya, saya merasa bahwa isu kiamat itu tidak bisa dienyahkan begitu saja. Mengambil makna positifnya, dengan demikian di tahun 2012 ini saya bisa terpacu untuk banyak-banyak melakukan kegiatan bermanfaat, menghilangkan maksiat.

Merefleksi apa yang telah terjadi di 2011 mungkin tidak sedahsyat yang saya alami di 2010.Dari wishlist yang saya buat, Alhamdulillah ada beberapa hal yang telah tercapai langsung di awal Januari. Keinginan untuk menempati kamar di tahun lalu juga akhirnya bisa dilaksanakan, bahkan tanpa diduga, perpustakaan yang tadinya saya pikir akan menjadi wishlist saya tahun ini, sudah mulai rapih. Terakhir yang saya pikir akan saya carry over di tahun ini adalah persiapan kuliah yang Alhamdulillah, masih bisa dikejar dan hingga awal Januari ini sedang berjalan.Akan tetapi, ada juga wishlist saya yang gagal se-gagal-gagalnya. Acara liburan keluarga yang saya susun di Maret 2011, buyar seketika gara-gara sakit. Parahnya lagi, rencana-rencana yang tidak berbiaya, seperti Shalat Dhuha, tidak bisa dijalankan dengan reguler, seperti yang saya harapkan.

2011 menghadirkan juga banyak kenangan. Ceria Bersama Kita 2011 bisa dilaksanakan dengan menghadirkan keharmonisan dan keceriaan antara anak-anak itu dengan teman-teman yang mau menjadi kakak-kakak pembimbing. Bahkan acara ini menghadirkan hutang kewajiban berupa saldo surplus yang masih belum bisa kami, panitia, putuskan. Pekerjaan juga hadir dalam grafik naik dan turun. Kebanyakan sih turun, ya :p. Cobaan berupa kegagalan dalam menempuh ujian di kantor saya upayakan menjadi pemicu semangat saya di tahun mendatang.

Banyak pro dan kontra seputar penetapan resolusi tiap tahun. Tapi menurut saya, resolusi itu perlu, setidaknya kita bisa memacu diri kita lebih baik lagi dalam bentuk yang terukur. Di kantor saya saja ada yang namanya rencana kerja, kenapa tidak kita coba terapkan dalam kehidupan? Saya tersenyum dan setuju dengan status teman di Facebook:

Resolusi 2012 = Resolusi 2011 + Resolusi 2012

Wishlist 2012 saya berisi beberapa hal yang di-carry over dari 2011, dan beberapa lagi keinginan saya. Sejujurnya tidak banyak keinginan yang ada di 2012. Yang jelas, kuliah plus pelunasan pinjaman sepertinya bakal membuat 2012 jadi tahun bertema BU :p.

Saya ingin mengutip buku baru Raditya Dika,

Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tidak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Selamat "pindah" ke tahun yang baru. 2012. Semoga kita menjadi insan yang lebih baik lagi di setiap waktunya.


[1] Photo's taken from poztmo.com

By MoMo with 2 comments

PhotoStory: Minggu Pagi

Minggu Pagi rasanya adalah waktu terdamai buat insan manusia1. Burung berkicau lebih lama, matahari menyapa tanpa tergesa. Oleh karena itu, jika bisa membekukan waktu, bukankah Minggu pagi jadi pilihan utama? Berikut ini beberapa foto, yang mungkin tidak begitu bagus, tapi ia senang untuk bercerita.


3 gelas yang tersedia tiap pagi. Paling besar buat Bapak, paling kecil buat adik, dan saya yang paling tinggi semampai. Entah bagaimana konvensinya, yang jelas tiap pagi saya tidak pernah salah ambil dan adik tidak pernah protes. Keadaan setiap pagi selalu seperti ini, gelas saya paling cepat habis terlebih dahulu, karena saya yang paling dulu terbangun, mau libur ataupun tidak, abis lembur ataupun tidak.



Sarapan bisa bikin saya yang tidur cuman 3 jam langsung fokus. Hahaha. Untuk akhir pekan, biasanya kami beli nasi uduk yang ada di ujung jalan. Atau jika males kemana-mana cukup sekedar mendadar telor dan memasak mie instant. Seperempat telur itu, saya yang makan tentunya. :D



Ruang tengah rumah saya dan keluarga cukup besar. Dulu sengaja dirancang untuk menggelar resepsi di rumah *uhuk*. Bukan dink, memang keluarga kami hobinya bikin kumpul-kumpul, jadi butuh ruangan yang cukup besar untuk menampung banyak orang. Minggu pagi seperti ini, dimana anggota keluarga masih banyak yang login di sistem mimpi 2.0, tentunya jadi sepiiii sekali. Paling hanya saya gunakan untuk skipping. Agak siang sedikit, biasanya beberapa ponakan saya datang bermain. Lumayan bisa menghibur bapak yang belum punya cucu sendiri. #eaa



Ada perpustakaan kecil di depan kamar saya. Lemari buku ini yang paling penuh buku. Sisanya campuran antara buku Bapak, diktat kuliah saya dan adik, buku-buku agama, bekas foto dll. Minggu pagi saya biasanya menggunakan ruangan ini untuk nyanyi-nyanyi atau rapi-rapi yang bisa dirapikan. Harapan saya sih, nantinya bisa terisi banyak buku. Baik buku saya maupun buku pasangan. Enak kali ya punya pasangan hobi baca? #kode. Iya, hobi saya membaca. Tapi jangan suruh membaca pikiran atau hati ya, saya ga bisa. #kodelagi



Gambar ini adalah pemandangan dari tempat jemuran. Di belakang saya ada rumah tetangga yang nasibnya serupa. Penghuninya sama-sama duda. Kalau Minggu pagi mah pasti sepi, nah kalo malem-malem saat saya baru pulang kerja, kadang dari sini bisa terlihat ada sesosok yang lagi asyik main komputer di kamar di lantai 2 itu hihihihi2. Sayangnya anak yang punya rumah, 4 orang, batangan semua bray.



Hujan malam Minggu lalu membuat air menggenang di balkon depan. Sebenarnya bukan balkon khusus, cuman dak di atas garasi. Keadaannya masih sepi memprihatinkan. Mungkin jika ditambah tanamannya akan menjadi taman yang indah. Dari atas sini biasanya saya akan mencari abang-abang ketoprak atau kacang hijau di Minggu pagi. Dari sini pula saya biasanya melihat keadaan di salon yang ada persis di depan rumah, apa masih ada pelanggan atau tidak. Ya, bapak menyarankan kami untuk menata rambut di salon kecil di depan rumah. "Daripada kasih duit ke orang lain, mendingan ngelakuin tetangga", katanya.


Teras rumah jadi tempat yang paling intim buat saya, bapak, adik, dan mbak Iyah. Hasil tangkapan kami berupa kacang ijo dan ketoprak biasanya kami habiskan di sini. Atau jika agak siang, kami akan menikmati mie ayam yang dijual di sebelah sambil mendengarkan update gosip terbaru dari mbak Iyah.


Nah itu Minggu pagi saya, bagaimana Minggu pagi Anda?

1 Khususon buat yang lagi gak ada event atau jadi panitia kawinan.
2 Semoga dia gak baca ini. semoga dia jugak gak punya FB. Amin!

By MoMo with 4 comments

Calon Pengantin

Kereta yang kutumpangi ini terus melaju, bahkan berlari. Seolah-olah melarikan diri dari sesuatu yang tertingal di belakang. Atau mungkinkah ini hanya perasaanku saja? Kusibak tirai hijau lusuh itu dan kemudian hamparan hijau tersaji melalui jendela kereta. Ada rasa bahagia menelusup dada, karena aku cukup hapal gambar hidup ini. Gambar yang kemudian akan berganti menjadi deretan rumah-rumah kecil dan kehidupan sebuah kota yang berjalan lambat. Dari kejauhan terlihat sebuah papan nama, makin lama makin membesar. Tugu. Aku pulang, entah lari dari kenyataan atau menjemput kenangan.

12 jam sebelumnya.

Aku berhenti sejenak. Kakiku terasa kebas. Hampir 12 jam ia tertekuk di kursi bis Solo - Pulogadung yang sempit itu. Masya Allah buruknya jalan pantura. Padahal setiap tahun melaluinya. Menghamba pada sebuah ritual bernama mudik. Membuat para malaikat catatan sipil sibuk bekerja untuk mengubah status mereka menjadi musafir masal.

Sebuah sepeda motor mendatangiku. Pengendaranya menggumamkan pertanyaan yang nyaris teredam oleh helmnya.

"Mas Furqan?" tanyanya.

Aku mengangguk. Kemudian mengulurkan tangan.

"Saya Umar," sapanya seraya menggenggam tanganku dengan erat. Umar meraih tas dari tanganku, "Sini mas saya bawakan barangnya,"

Aku merasakan ada beban yang sedikit lepas. Setelah memastikan ia membawanya dengan hati-hati, aku meminta ijin untuk pergi.

"Saya ingin mengunjungi famili sebentar" jelasku setelah Umar bertanya hendak kemana. "Insya Allah nanti sore kita ketemu lagi"

Tugu

5 tahun rasanya bukan waktu yang lama untuk warga jakarta dengan denyutnya yang berderap cepat. Akan tetapi sejauh-jauh seorang merantau pasti akan rindu kampung halaman.

Lisa mencolek lenganku, menyadarkanku dari lamunan panjang. Raut mukanya memintaku untuk membantunya menurunkan koper dari bagasi atas. Ya, Lisa adalah istriku. Baru kali ini aku punya kesempatan mengajaknya menyesapi kesederhanaan tanah tempatku dibesarkan.

Angin lembab jogja menyapaku begitu aku menuruni tangga kereta. Bayanganku kembali ke suasana 5 tahun lalu, ditangga ini. Saat itu aku hendak merantau ke ibu kota. Bapak dan Ibu tak sanggup mengantar karena jarak desa dan stasiun tugu yang cukup jauh dan kami tak memiliki kendaraan yang memadai. Hanya sahabatku yang menemaniku hingga ke tangga ini.

"Kamu yakin Gun, mau merantau ke Jakarta?" tanyanya meyakinkanku.
Aku mengangguk mantap , "Doakan aku, man"
Ada jeda cukup lama hingga aku tak tahan memeluknya. Ia membalas dekapanku cukup erat. "Aku titip bapak dan ibu," pintaku.
"Jaga dirimu baik-baik" ia menjabat tanganku kuat. "Sering-seringlah kirim surat untuk bapak dan ibu"

Seiring laju kereta yang makin menjauh, ia mulai menghilang dari pandangan. Siapa yang menyangka persaudaraan ini akan berakhir hari ini??

Lisa kembali menggamit tanganku dan aku mempercepqt langkahku. Banyak orang-orang berkerumun di stasiun. Tapi ada yang lain kala itu. Wajah mereka tegang seolah olah sesuatu yang buruk telah terjadi. Hampir semua bisu menatap mematung ke televisi-televisi yang menayangkan breaking news.

"Ada apa, Bu?" aku berhenti sejenak bertanya pada wanita tua yang ada di tepi peron. Ada getar dalam suaranya dan setitik air di sudut mata.

"Jakarta dibom, mas..."
Aku terkesiap kaget... "Dimana??" tanyaku
"Gereja HKBP Halim"
Lisa menutup mulutnya tak percaya dan lututku lemas seketika

32

Aku menatap pada secarik kertas lusuh di tangan. Mungkin karena terlalu sering kugenggam sejak tadi. Nomornya benar, jalannya pun sesuai. Tak salah lagi, pasti ini tempatnya.

Rumah berpagar kuning ini mengangkat seluruh rasa letihku. Di depannya terdapat anyelir yang berbaris rapi. Sebuah taxi terpakir di depan gerbang. Jadi supir taxikah ia sekarang? Batinku bertanya-tanya.

Tak berapa lama muncul seorang pria dari dalam rumah. Sorot matanya begitu kukenal. Sorot yang meneduhkan dan kurindukan.

"Assalamualaikum" sapaku

Pria itu tak menjawab. Ia menatapku penuh tanya seraya memasukkan koper ke dalam bagasi.

"Gundala," sapaku penuh yakin bahwa kata ini akan menerbangkannya kemari.

Seketika mata pria itu terbelalak. koper yang ia bawa terlepas dari genggamannya. Seperti yang kuduga, ia melompat ke arahku, dan kemudian mencengkeran bahuku dengan kuatnya.

"p-man!" teriaknya. Panggilan akrabnya buatku. Aku tersenyum dan ia pun tertawa. Badanku diguncangnya keras. Matanya menyipit tertutup oleh senyummya yang lebar.


Kami menghabiskan beberapa waktu berbincang memperbaharui kondisi masing-masing. Bagaimana selama ini aku memilih pondok pesantren dan berdagang parfum, sementara ia sibuk dengan perusahaan mebel dan memberikan pelayanan pada jemaatnya.

"Mau kemana, Gun?" tanyaku melihat tumpukan koper di bagasi taxi yang belum tertutup.
"Pulang kampung man. Sudah hampir 5 tahun aku gak pulang" jawabnya. "kamu ada urusan apa di Jakarta?"

"Ada urusan dagang. Aku meminta alamat ini dari bapak dan ibu" jelasku.

Matanya kembali berbinar, "aku kangen sama bapak dan ibu, man!" akunya. "omong-omong urusanmu sudah selesai?" tanyanya. "mari pulang bersamaku. Perjalanan ini pasti akan sangat menyenangkan"

Ia merangkul bahuku. Ada hawa hangat merengkuh tubuhku. Seperti yang kurasakan 5 tahun lalu. "belum gun," aku menggeleng. "mungkin saat ini aku tak bisa pulang." tambahku "maka dari itu aku menemuimu"

Wajahnya menampakkan minat mendengarkan kata-kataku. Di smu dulu kami berdua tak terpisahkan. Banyak yang bilang tanpaku ia tak sempurna, padahal justru sebaliknya. Hidupku mungkin tak sempurna tanpanya.

"Kau tau, Gun? Semua akan indah pada waktunya," ada hawa hangat menerpa wajahku. Aku menunduk, mungkin saat ini warnanya sudah memerah. "Selama kita bersabar dan istiqomah, Insya Allah mendapat ganjarannya." dadaku berdegup kencang, otakku keram, hingga aku sendiri tak sanggup berpikir.

10 detik keheningan terjadi hingga ia mulai tertawa, "Aku bingung man kamu ngomong apa??" terangnya. "Tapi yang pertama tadi, indah pada waktunya itu, sering kudengar di kaset lagu rohaniku," ia meledakan tawanya "hahahahahahaha"

"Aku mencintaimu gun.." ucapku cepat dan ia masih tertawa.

"Hahahahahahaha"

"Aku..." mukaku merah padam. "cinta..." aku bersusah payah mengendalikan gemuruh batinku, sementara tawanya mulai menghilang

"Apa maksudmu, man?" ia masih berusaha mengendalikan napasnya.

"Aku...." suaraku tercekat. Ia menatapku dalam, mata yang kerap menelanjangi para lawan bicaranya. "Aku sayang.. "


"Aku pun demikian, man" dia memotong kembali ucapanku yang tergagap. "Setelah 25 tahun, kau sudah kuanggap seperti.... "

"Adik sendiri," kali ini aku mendahului penjelasannya. Aku mencoba menegakkan kepalaku, menantang tatapannya yang dari tadi mengaduk-aduk perutku. "Tapi bagiku kau lebih dari itu.."

Raut wajahnya menegang. "Kau membuatku takut, man" ucapnya pelan.

"Katakan apa artinya gun, saat hanya kamu yang terpikir di setiap pagiku. Saat darahku berdesir cepat mengingat kenanganku bersamamu...?"

"Kau gila man," matanya makin menatapku nyalang. "Mau kau rusak persaudaraan kita?"

"Bukan gun. Bukan mauku begini. Tapi demi Allah, cuman kamu satu utamaku."

Ia muntab. Berdiri dengan napas memburu. "Beraninya kau!!!" ujarnya geram. "Kau lihat semesta bahkan tidak memungkinkan ini, man! Kamu di solo, aku di Jakarta. Kamu muslim, aku kristen. Bahkan diantara kesamaan kita pun, ketentuan Tuhan tak mengijinkan. Tuhan Yesus, kita sama-sama laki-laki!!!" ia berteriak hingga seluruh tubuhnya bergetar. Tangannya terkepal dan aku menguatkan rahangku, kalau-kalau ia kalap.

Tiba-tiba dari dalam rumah muncul seorang perempuan yang langsung mendekapnya.

"Ada apa ini mas?" tanya perempuan itu dengan raut khawatir. Tanpa perlu dijelaskan aku pasti tau siapa dia.

"Dan satu alasan lagi, man. Ini. Istriku," ujarnya. Wanita itu tersenyum kecut ke arahku. Ia mengulurkan tangannya yang hanya kubalas dengan tangkupan takzim di depan dada. “Maaf Man, aku harus pergi sekarang,” ucapnya seraya berjalan cepat menuju ke depan pagar. Di bukanya pagar itu lebar-lebar, seolah-olah mengusirku dengan paksa.

Aku berjalan keluar seperti kerbau dicocok hidungnya. Sebelum pergi sempat aku bertanya, “Inikah akhir persaudaraan kita, gun?” tanyaku.

Ia tak berusaha menatapku. Mungkin jijik atas apa yang sedang terjadi. Dengan tegar kucoba menerimanya. Lima langkah berjalan dari pintu pagar, aku membalikkan badan kembali dan ia masih tercenung di depan sana.

“Akankah kau melupakanku, gun?” aku bertanya kembali.
“Bertobatlah atas nama Tuhanmu,” aku terkejut ia menjawabnya dengan lirih.
“Maafkan aku, “ pintaku, kemudian berbalik dan menghilang di persimpangan jalan.

1 minggu kemudian.

Aku tak pernah habis pikir apa maksudmu itu, man. Hari dimana kita seharusnya saling mengisi ruang rindu, tergantikan oleh amarah dan tangisan pilu. Apakah dendam yang melangkahkanmu ke gerejaku? Gereja tempat kuserahkan tenaga dan waktuku untukNya. Memilih mereka orang-orang tak bersalah menjadi korban amarahmu?

Beberapa waktu lalu, pihak polisi menanyaiku, man. Mengkonfirmasi apakah aku mengenal Furqan alias Firman, nama aslimu. Aku terpaksa berbohong, meski kutau, tak akan mungkin kumelupakanmu. Bagaimana bisa, man, jika di setiap khutbahku selalu kusebut namamu??

20.00

Allah Azza wa Jalla,

Hari ini hamba menghadap ke pangkuanMu. Berserah diri hanya padaMu. Untuk semua yang tak perlu hamba utarakan, tapi pasti bisa kau mengerti.

Allah Azza wa Jalla,

Siapakah penggerak hati ini? Saat sujud dan zikir hamba tersusupi seraut wajah manusia. Wajah yang kadang hadir di sela-sela penghambaanku. Hamba tak pernah meminta untuk jatuh cinta. Hamba bahkan tak pernah memilih untuk mendaratkan hati ini ke seorang perempuan, apalagi lelaki. Tapi siapakah yang perlu dipersalahkan, saat jantung hati ini berdegup kencang, dan bulu roma tiba-tiba meremang?

Allah Azza wa Jalla,

Hari ini hamba menghadap ke pangkuanMu. Berserah diri hanya padaMu. Menegakkan segala kebenaranMu. Mengorbankan seluruh jiwa dan ragaku. Oleh karena itu hamba tak ingin banyak meminta, selain di surga nanti, pertemukan hamba dengan Guntur. Karena itu satu-satunya yang hamba inginkan.

Seseorang memegang bahuku. Aku menoleh dan tersenyum. Umar ada di sana. Ia bertanya apakah aku sudah siap. Aku berdiri dan mengambil napas panjang.

“Sudah siap calon pengantin?” Umar kembali bertanya.

Aku tersenyum, kemudian mengangguk kecil. “Doakan aku sukses di malam pertamaku,” pintaku bercanda.

Aku berjalan mantap ke luar mesjid, menuju ke gereja yang ada di seberangnya.

Aku siap menjemput pengantinku. Allahu Akbar!!

By MoMo with 3 comments

Rindu

Tidakkah alami rindu yang menyusup sunyi? Karena sejatinya, selalu ada "ingin" di dalam "dingin".


.. dalam hati kupanggil namamu... - Rindu (1995)


1. Picture's taken from aja123.wordpress.com


By MoMo with 2 comments

Laundry Basket dari Disket

Weekend lalu saya agak mati gaya. Mau keluar cuaca gak kompak sama sekali, ditambah dengan kondisi dompet yang pro buat tinggal di rumah. Iseng-iseng saya coba merapikan barang, kemudian menemukan banyak sekali disket-disket bekas Ayah yang (menurut saya) tidak dipakai lagi. Mau dibuang, kadang-kadang Ayah akan mendelik sebal. Oleh karena itu saya berpikir mau diapakan barang-barang persegi ini.

Beryukurlah saya karena akhirnya koneksi Internet ini bisa dipakai untuk mendapatkan informasi yang berguna, ketimbang terus mencari... ah sudahlah. Google mengantarkan saya ke sebuah blog pemilik tobucil di Bandung. Sedikit dimodifikasi, akhirnya saya memutuskan menggunakan kemampuan prakarya yang tak seberapa ini untuk membuat tempat pakaian kotor (laundry basket) dari disket-disket ini.

Laundry Basket dari Disket

Bahan:
  1. Disket bekas, karena kalau menggunakan kartu remi nanti kita harus ganti judul. Untuk membuat laundry bag ini, saya membutuhkan 95 buah disket
  2. Plastik pengikat yang biasanya digunakan untuk merapihkan kabel. Ada kok dijual di toko material. Saya membutuhkan 4 buah plastik (sekitar 400 buah) kali ini
  3. Solder listrik, untuk membolongkan disket
  4. Gunting, untuk memotong
  5. Koneksi Internet, untuk liat referensi
  6. Bakwan, es teh manis, ponsel, dan tv berbayar, sekedar buat hiburan.



Cara Pembuatan
  1. Susun disket terlebih dahulu membuat pola, supaya gampang. Untuk laundry bag ini, saya membuat ukuran 5x5 untuk sisi depan dan belakang, sedangkan sisi samping dan bawah berukuran 3x5.


  2. Kita butuh 2 bolongan di sisi kanan dan 2 lagi di sisi kiri disket. Karena biasanya hanya ada dua, maka gunakanlah solder untuk membuat 2 bolongan lagi. Buatlah bolongan yang cukup besar. Baru kali loh saya menggunakan solder. Ada sensasi ketika solder yang panas melelehkan disket yang terbuat dari plastik. Sekali-kali saya memekik "Solder itu panas, Jendra!! Ceesss..." atau "Dimana Nasution??"


  3. Ikat satu disket dengan yang lain, satu bolongan digunakan untuk dua ikatan, satu untuk mengikat dengan disket di sisinya, satu lagi untuk mengikat dengan disket di atas/bawahnya. Hati-hati dalam mengikat, karena ada kemungkinan disket akan bertumpuk saat diikat. Lakukan ikatan untuk masing-masing sisi laundry bag. Oh ya, jangan lupa untuk menggunting tali-tali yang menjuntai itu.


  4. Satukan sisi-sisi tersebut dan ikat kembali. Tadinya saya menggunakan tutup, tapi mungkin karena terlalu kuat mengikatnya, tutupnya jadi susah dibuka-tutup. Jadinya dibatalkan saja.


Pengerjaannya relatif mudah, hanya butuh kesabaran dan kehati-hatian, saya tidak sangka pengerjaan ini akan menghabiskan waktu yang lama juga.

Akhirnya, GString yang selama ini saya khawatirkan akan digondol kucing, kini punya tempat yang aman.... Ini cerita akhir pekan saya, bagaimana dengan Anda?

By MoMo with 7 comments
  • Popular
  • Categories
  • Archives